Jumat, 15 Mei 2026

Pemerintah Harus Segera Ambil Langkah Antisipatif Cegah Dampak Buruk Tarif Trump

Penulis : Yustinus Patris Paat
3 Apr 2025 | 15:39 WIB
BAGIKAN
Anggota Komisi VI DPR Firnando H. Ganinduto
Anggota Komisi VI DPR Firnando H. Ganinduto

JAKARTA, investor.id – Anggota Komisi VI DPR Firnando H. Ganinduto menilai kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal berdampak buruk bagi ekonomi Indonesia. Karena itu, pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah antisipatif.

Menurut Firnando, kebijakan tersebut baik untuk AS tapi tidak untuk Indonesia, serta dikhawatirkan akan ada balasan dari negara-negara maju sehingga mengakibatkan perang dagang dan berdampak secara global.

“Jadi, harus ada negosiasi tingkat tinggi melalui perjanjian dagang antara negara sebelum berdampak luas terhadap perekonomian Indonesia," ujar Firnando kepada wartawan, Kamis (3/4/2025).

ADVERTISEMENT

Menurut Firnando, pemerintah bisa saja tetap melakukan negosiasi terlebih dahulu dengan pemerintah AS terkait kebijakan tarif Donald Trump ini.

Jika tidak berhasil, pemerintah harus melakukan negosiasi dengan negara mitra dagang lain agar sektor-sektor ekspor ke AS, tetap mendapatkan tarif lebih rendah. Hal ini agar industri-industri yang diekspor ke AS tetap berjalan. Sebab 1-2% sangat berarti untuk industri tersebut.

Firnando mengatakan, dirinya dulu pernah mengingatkan mitra Komisi VI DPR, yakni Menteri Perdagangan Budi Santoso agar tarif barang-barang Indonesia ke AS, tidak boleh terlalu tinggi, terutama garmen yang banyak diekspor ke AS.

"Dampaknya pasti besar ini (kebijakan tarif Trump). Waktu itu juga saya pernah bilang dengan Menteri Perdagangan, tarif masuk ke Amerika itu tidak boleh tinggi-tinggi karena garmen kita lumayan banyak ekspor ke sana sehingga seperti ini, ekspor kita otomatis terdampak lagi, apalagi di dunia lokal, garmen kita sudah parah," pungkas Firnando.

Sebelumnya Donald Trump mengumumkan akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor ke negara AS. Bahkan, tarif yang lebih tinggi untuk sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. 

Adapun kebijakan tarif balasan ini diberlakukan sebesar 34% untuk China dan 20% untuk Uni Eropa, sebagai respons terhadap bea masuk yang diberlakukan pada produk-produk AS. Sedangkan untuk Indonesia sebesar 32% dan tarif tertinggi terlihat akan diberlakukan kepada Vietnam sebanyak 46%.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 47 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia