Jumat, 15 Mei 2026

Soal Tarif Impor Trump, Indef Singgung Problem 2 Tahun Absennya Dubes RI untuk AS

Penulis : Muhammad Farhan
4 Apr 2025 | 18:57 WIB
BAGIKAN
Kepala Pusat Industri Perdagangan & Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho. (Investor Daily/David Gita Roza)
Kepala Pusat Industri Perdagangan & Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Andry Satrio Nugroho menyinggung absennya Duta Besar RI untuk Amerka Serikat (AS), menjadi salah satu faktor kerugian Indonesia atas kebijakan tarif impor balasan AS ke RI sebesar 32%.

Dia menjelaskan, jabatan perwakilan Indonesia untuk Negeri Paman Sam telah kosong selama hampir dua tahun yakni sejak Juli 2023. Absennya Dubes RI untuk AS dinilai sebagai pengabaian terhadap kepentingan nasional.

“Sudah hampir dua tahun kita tidak punya wakil di Washington, padahal AS mitra dagang kedua terbesar kita. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi pengabaian terhadap kepentingan nasional,” kata Andry melalui keterangan tertulisnya, pada Jumat (4/4/2025).

ADVERTISEMENT

Menurut Andry, peran Dubes bukan hanya sekadar simbol kompromi politik bilateral. Posisi tersebut diperlukan dan mesti diisi oleh sosok yang piawai dalam kerja diplomasi ekonomi maupun lobi perdagangan.

“Kita butuh sosok yang paham diplomasi ekonomi dan berpengalaman dalam lobi dagang. Ini bukan posisi simbolik—ini garis depan pertahanan perdagangan Indonesia,” terang Andry.

Untuk itu, Andry mengatakan Presiden Prabowo perlu segera menunjuk Duta Besar yang memiliki rekam jejak kuat di bidang perdagangan dan investasi.

“Setiap hari tanpa perwakilan di AS adalah hari di mana posisi tawar kita melemah. Kita kehilangan momentum, kehilangan peluang, dan kehilangan kendali,” tegas dia.

Di sisi lain, Andry mengatakan bahwa kebijakan tarif impor sebesar 32% yang dikenakan AS akan menghantam ekspor utama dari Indonesia. Ia menuturkan, sektor tekstil, pakaian jadi, alas kaki, kelapa sawit sampai karet, akan mengalami dampak terbesar dari kebijakan tarif impor AS tersebut.

“Tekstil, pakaian, dan alas kaki menyumbang 27,5% dari total ekspor kita ke AS. Ini belum termasuk kelapa sawit serta karet yang juga menjadi komoditas strategis Indonesia,” tandas Andry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 42 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 46 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia