Jumat, 15 Mei 2026

Kebijakan Trump Bak Pedang Bermata Dua Bagi AS

Penulis : Erfan Ma’ruf
4 Apr 2025 | 19:28 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Pool via AP)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Foto: Pool via AP)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bak pedang bermata dua. Di satu sisi dapat berdampak negatif berupa stagnasi ekonomi dan inflasi tinggi yang berujung pada fenomena resesi, tapi di sisi lain dapat berbuah mendongkrak perekonomian AS.

Ekonom senior INDEF, M Fadhil Hasan menyebutkan beberapa kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump, seperti pemotongan pajak, penyederhanaan pemerintah, dan upaya mengembalikan industri manufaktur ke AS, telah memicu berbagai pandangan. Terdapat dua skenario yang diperkirakan oleh para ekonom mengenai dampak kebijakan-kebijakan ini terhadap perekonomian negeri Paman Sam tersebut.

“Pertama, kebijakan-kebijakan seperti residual calculation akan berdampak negatif pada perekonomian Amerika dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Dampaknya termasuk meningkatnya inflasi dan tingginya biaya hidup bagi masyarakat Amerika,” kata Fadhil, pada Jumat (4/4/2025).

ADVERTISEMENT

Secara umum, kebijakan ini diperkirakan akan mendorong perekonomian Amerika menuju stagflasi, yaitu kombinasi stagnasi ekonomi dan inflasi yang tinggi. Dia pun menyebut fenomena serupa pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Jimmy Carter yang berakhir dengan resesi di AS.

Meski demikian, Fadhil juga menyebut ada kemungkinan kedua atas kebijakan yang diambil Trump, dimana perekonomian AS dapat terdongkrak. Kebijakan ekonomi seperti pemotongan pajak, pengaturan tarif, dan penyederhanaan pemerintah bisa membawa dampak positif.

“Mirip dengan yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan, yang berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi Amerika. Meskipun peluang kedua skenario ini ada, ada ketidakpastian tentang kemungkinan mana yang lebih besar terjadi,” jelas dia.

Menurut Fadhil, hasil akhir dari dua skenario tersebut bergantung pada respons negara-negara yang dikenakan tarif oleh Trump. Jika negara-negara tersebut merespons dengan tindakan balasan, seperti yang dilakukan Trump dengan mengenakan tarif tinggi terhadap produk-produk Amerika, maka skenario perang dagang global bisa terjadi. Jika ini berlangsung, resesi atau stagflasi akan menjadi dampak yang sangat mungkin.

“Namun, jika negara-negara tersebut memilih untuk melakukan negosiasi dan mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, maka ekonomi global, terutama Amerika, berpotensi tumbuh lebih baik. Dalam hal ini, skenario kedua, yaitu pertumbuhan ekonomi yang positif, akan lebih mungkin terjadi,” urai dia.

Fadhil menilai, meskipun kedua skenario ini dapat terjadi, hingga saat ini belum ada kepastian tentang mana yang akan terwujud. Namun, jika kita melihat respons pasar saham di Amerika dan Asia terhadap kebijakan Trump, banyak yang menganggap bahwa dampaknya cenderung negatif bagi AS.

“Pasar saham global mengalami penurunan signifikan, menunjukkan adanya reaksi negatif terhadap kebijakan ini. Berdasarkan respons jangka pendek ini, banyak pihak memperkirakan bahwa skenario pertama, stagnasi ekonomi dan inflasi, lebih besar kemungkinannya terjadi saat ini,” pungkas Fadhil.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia