Jumat, 15 Mei 2026

Indonesia Siapkan Langkah Negosiasi untuk Hadapi Kebijakan Tarif Trump

Penulis : Arnoldus Kristianus
7 Apr 2025 | 15:00 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Perekonomian)

JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia bersama anggota Asean lainnya akan melakukan negosiasi untuk mengantisipasi dampak penerapan tarif balasan atau tarif resiprokal oleh Amerika Serikat ke sejumlah negara.

“Hampir semua negara Asean tidak retaliasi. Jadi Vietnam sudah menurunkan semua tarifnya ke 0. Kemudian Malaysia juga akan mengambil jalur negosiasi, demikian pula Kamboja dan Thailand,” ucap Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (7/4/2025).

Dia mengatakan Asean tidak menjalankan langkah retaliasi tetapi Indonesia dan Malaysia mendorong Trade and Investment Framework Agreement (TIFA). Dalam hal ini Indonesia mengambil langkah yang sama dengan negara Asean lain dan menyelaraskan mekanisme TIFA yang dijalankan. TIFA adalah perjanjian kerangka kerja perdagangan dan investasi yang bertujuan untuk memperluas perdagangan dan menyelesaikan perselisihan.

ADVERTISEMENT

“Asean tidak mengambil langkah retaliasi, tetapi Indonesia dan Malaysia akan mendorong TIFA karena TIFA sendiri secara bilateral sudah ditandatangani di tahun 1996,” kata dia.

Selain itu  pemerintah juga menjalankan  non-tariff measures (NTM) atau kebijakan selain tarif yang dapat mempengaruhi perdagangan internasional. Langkah  non-tariff measures dilakukan dengan meningkatkan impor. Sehingga menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat. Impor yang akan ditingkatkan Indonesia dari AS adalah   gandum, kapas dan  produk migas.

“Di samping itu dalam proyek strategis nasional pemerintah akan membangun beberapa proyek termasuk refinery dan salah satu komponennya kita beli dari Amerika,” terang Airlangga.

Sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor ke negara AS. Bahkan, tarif yang lebih tinggi untuk sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Adapun kebijakan tarif balasan ini  diberlakukan  sebesar 34% untuk China dan 20% untuk Uni Eropa, sebagai respons terhadap bea masuk yang diberlakukan pada produk-produk AS. Sedangkan untuk Indonesia sebesar 32% dan tarif tertinggi terlihat akan diberlakukan kepada Vietnam sebanyak 46%. 

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 55 detik yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 12 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 16 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 54 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 58 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia