Indonesia Siapkan Langkah Negosiasi untuk Hadapi Kebijakan Tarif Trump
JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia bersama anggota Asean lainnya akan melakukan negosiasi untuk mengantisipasi dampak penerapan tarif balasan atau tarif resiprokal oleh Amerika Serikat ke sejumlah negara.
“Hampir semua negara Asean tidak retaliasi. Jadi Vietnam sudah menurunkan semua tarifnya ke 0. Kemudian Malaysia juga akan mengambil jalur negosiasi, demikian pula Kamboja dan Thailand,” ucap Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (7/4/2025).
Dia mengatakan Asean tidak menjalankan langkah retaliasi tetapi Indonesia dan Malaysia mendorong Trade and Investment Framework Agreement (TIFA). Dalam hal ini Indonesia mengambil langkah yang sama dengan negara Asean lain dan menyelaraskan mekanisme TIFA yang dijalankan. TIFA adalah perjanjian kerangka kerja perdagangan dan investasi yang bertujuan untuk memperluas perdagangan dan menyelesaikan perselisihan.
“Asean tidak mengambil langkah retaliasi, tetapi Indonesia dan Malaysia akan mendorong TIFA karena TIFA sendiri secara bilateral sudah ditandatangani di tahun 1996,” kata dia.
Selain itu pemerintah juga menjalankan non-tariff measures (NTM) atau kebijakan selain tarif yang dapat mempengaruhi perdagangan internasional. Langkah non-tariff measures dilakukan dengan meningkatkan impor. Sehingga menyeimbangkan neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat. Impor yang akan ditingkatkan Indonesia dari AS adalah gandum, kapas dan produk migas.
“Di samping itu dalam proyek strategis nasional pemerintah akan membangun beberapa proyek termasuk refinery dan salah satu komponennya kita beli dari Amerika,” terang Airlangga.
Sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor ke negara AS. Bahkan, tarif yang lebih tinggi untuk sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Adapun kebijakan tarif balasan ini diberlakukan sebesar 34% untuk China dan 20% untuk Uni Eropa, sebagai respons terhadap bea masuk yang diberlakukan pada produk-produk AS. Sedangkan untuk Indonesia sebesar 32% dan tarif tertinggi terlihat akan diberlakukan kepada Vietnam sebanyak 46%.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






