Jangan Emosi Merespons Tarif Trump, Pengamat Kasih Saran Begini
JAKARTA, investor.id - Kebijakan tarif Presiden Donald Trump telah mengguncang tatanan perdagangan global.
Dengan pendekatan proteksionis yang agresif, Trump menerapkan tarif impor tinggi demi melindungi industri Amerika Serikat (AS) dan menekan defisit perdagangan—sebuah langkah yang oleh banyak ekonom dinilai sebagai ancaman terhadap prinsip perdagangan bebas yang selama ini menjadi fondasi ekonomi global.
Kebijakan tersebut tak ayal memunculkan berbagai reaksi. Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong memperingatkan bahwa kebijakan tarif baru yang ditetapkan Presiden Donald Trump menandai berakhirnya era globalisasi berbasis aturan dan dapat menjadi awal dari krisis ekonomi global baru.
Wong, dalam pidatonya yang disampaikan melalui Youtube pribadinya seperti dikutip dari CNA, menekankan bahwa dunia sedang memasuki fase yang jauh lebih proteksionistik, arbitrer, dan berbahaya bagi negara kecil dengan ekonomi terbuka seperti Singapura yang sangat rentan terdampak.
Pengamat ekonomi dan hukum perdagangan internasional, Dr. Adiwarman, tampil dengan pandangan tajam dan menyeluruh. Ia melihat kebijakan Trump bukan hanya sebagai tindakan sepihak, tetapi juga sebagai sebuah fenomena ideologis yang memutarbalikkan prinsip-prinsip dasar perdagangan dunia.
"Pasar Amerika, dengan kebijakan Trump ini, seperti mengkhianati esensi perdagangan bebas yang diajarkan Adam Smith dan teori keunggulan komparatif David Ricardo," ujar pengajar di Departemen Ilmu Administrasi Fiskal Universitas Indonesia itu dalam keterangannya dikutip Senin (7/4/2025).
Bagi Adiwarman, langkah Trump tak bisa dilihat sekadar sebagai proteksi ekonomi. Ia melihatnya sebagai sebuah pembentukan realitas baru—sebuah bentuk konstruktivisme politik yang menciptakan kebenaran baru berdasarkan versi tunggal: kepentingan nasional Amerika Serikat.
"Trump telah membawa dunia ke era di mana kebenaran tidak lagi berdasar norma bersama, melainkan pada siapa yang paling berkuasa mendikte pasar," tambahnya.
Adiwarman menyoroti bahaya dari respons yang keliru. Menurutnya, jika negara-negara hanya bereaksi emosional terhadap tarif Trump, maka dunia akan jatuh ke dalam spiral perang dagang yang tidak sehat. Bernegosiasi dengan Trump, Indonesia perlu membawa kepentingan nasional yang jelas dengan dana dan fakta valid mengenai komoditas tertentu seperti baja, karet, tekstil, alas kaki. Dan itu perlu dilakukan sesegera mungkin.
Dalam pada itu, sebagai respons antisipatif, Indonesia harus menjawabnya dengan pendekatan ilmiah dan teoritik, bukan emosi.
"Kita harus menggunakan ilmu, bukan emosi. Jika perlu, kita tarik kembali teori J.H. Boeke tentang ekonomi dualistik untuk memperkuat sektor tradisional dan modern secara simultan," tuturnya.
Ia mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk membangun sistem ekonomi yang lebih mandiri dan adaptif. Ia juga menekankan perlunya efisiensi dalam kebijakan fiskal, dengan bahasa yang lugas: Ketika terjadi kebijakan yang memicu perang dagang atau krisis ekonomi, maka yang perlu dilakukan adalah bijak menggunakan uang.
Dampak Langsung: Serbuan Baja dan Sikap IISIA
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





