Jumat, 15 Mei 2026

IMF Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global Tahun 2025 Terkoreksi Jadi 2,8%

Penulis : Arnoldus Kristianus
23 Apr 2025 | 12:50 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi IMF. (Foto: File)
Ilustrasi IMF. (Foto: File)

JAKARTA,investor.id - Lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan pertumbuhan perekonomian global hanya mencapai 2,8%. Angka ini lebih rendah dari proyeksi pada Januari 2025 yang sebesar 3,6%. Hal ini tidak terlepas dari tekanan perekonomian dunia yang terjadi karena penerapan tarif balasan (resiprokal) dari Amerika Serikat terhadap sejumlah negara.

“Berdasarkan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi global akan mencapai 2,8% tahun ini dan 3% pada  tahun depan, penurunan kumulatif sekitar 0,8% dari World Economic Outlook pada  Januari 2025,” ucap Director Research Department IMF Pierre‑Olivier Gourinchas dikutip dari channel youtube IMF pada Rabu (23/4/2025).

Dia mengatakan  pihaknya juga melakukan simulasi bila AS tidak memberlakukan tarif resiprokal maka pertumbuhan ekonomi dunia masih bisa mencapai 3,2%. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi global masih berada di atas tingkat resesi. Lebih lanjut proses disinflasi global terus berlanjut, tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dengan inflasi yang direvisi naik sebesar 0,1% di kedua tahun tersebut.

ADVERTISEMENT

“Ketegangan perdagangan sangat mempengaruhi perdagangan global. Kami memproyeksikan bahwa pertumbuhan perdagangan global akan lebih dari setengahnya dipotong dari 3,8% tahun lalu menjadi 1,7 % tahun ini,” kata Pierre.

Pierre mengungkapkan bahwa semua negara terkena dampak negatif dari lonjakan ketidakpastian kebijakan perdagangan. Lantaran  aktivitas bisnis hingga investasi jadi terganggu. Lembaga keuangan  juga akan menilai kembali risiko pelaku usaha yang selama ini menjadi  peminjam mereka. Ketidakpastian juga meningkat karena gangguan sektoral yang kompleks yang dapat disebabkan oleh tarif yang akan menyebabkan naik turunnya rantai pasokan, seperti sebelumnya terjadi saat pandemi.

“Bagi mitra dagang, tarif sebagian besar bertindak sebagai guncangan permintaan eksternal yang negatif,” ungkap Pierre.

Untuk AS sendiri penerapan tarif tersebut memberikan guncangan pasokan yang mengurangi produktivitas dan output secara permanen dan meningkatkan tekanan harga untuk sementara.

“Hal tersebut kian menambah prospek yang sudah melemah dan membuat kami merevisi pertumbuhan turun sebesar 0,9% menjadi 1,8%, dengan penurunan 0,4% dari tarif saja,” terang dia.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia