Jumat, 15 Mei 2026

Perang Tarif Reda, Pemerintah Jangan Lengah

Penulis : Prisma Ardianto
14 Mei 2025 | 15:13 WIB
BAGIKAN
Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer (kiri) dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent (kanan) usai memberikan konferensi pers di Jenewa, Swiss, Senin (12/5/2025), di akhir negosiasi tertutup dua hari yang menghasilkan kesepakatan pemangkasan tarif selama 90 hari ke depan terkait barang impor AS dan China. (Investor Daily/Jean-Christophe Bott/Keystone via AP)
Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer (kiri) dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent (kanan) usai memberikan konferensi pers di Jenewa, Swiss, Senin (12/5/2025), di akhir negosiasi tertutup dua hari yang menghasilkan kesepakatan pemangkasan tarif selama 90 hari ke depan terkait barang impor AS dan China. (Investor Daily/Jean-Christophe Bott/Keystone via AP)

YOGYAKARTA, investor.id – Amerika Serikat (AS) dan China sepakat melangsungkan gencatan senjata selama 90 hari dalam rentetan balas-membalas tarif selangit. Meredanya perang tarif itu seyogyanya disikapi pemerintah dengan tetap waspada, mengingat kesepakatan final belum terlihat jelas.

Perundingan antara AS dan China di Jenewa, Swiss, baru-baru ini menghasilkan kesepakatan untuk saling menurunkan tarif impor selama 90 hari. AS menurunkan tarif impor barang China dari 145% menjadi 30%. Sedangkan tarim impor barang-barang AS yang diimpor China dipangkas untuk sementara dari 125% menjadi 10%.

Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sekar Utami Setiastuti menyampaikan, sikap Presiden AS Donald Trump dikenal sering berubah. Pemerintah harus tetap waspada, apalagi penangguhan tarif tinggi itu hanya bersifat sementara.

ADVERTISEMENT

“Masih waspada, karena Trump itu kan volatile banget, ya. Itu kan baru perundingan pertama. Tapi kita belum lihat sama negara lain juga kayak gimana. Jadi, enggak bisa terus kita santai-santai, tetap harus resilien dan tetap harus waspada,” kata Sekar dalam di Yogyakarta, Rabu (14/5/2025), seperti dikutip dari Antara.

Sambil merampungkan negosiasi dengan AS dan tetap waspada, pemerintah Indonesia juga mesti melakukan mitigasi risiko jika situasi perang tarif berbalik memburuk. Indonesia harus menyiapkan langkah strategis seperti pemberian stimulus ke sektor-sektor yang berpotensi terdampak, sehingga pukulan ke perekonomian bisa diredam.

“Walaupun kemudian Trump seolah sudah melunak, itu bukan berarti bahwa masalahnya selesai,” ujar Sekar.

Sekar menuturkan, gejolak ekonomi global akibat perang dagang umumnya rentan terhadap aktivitas ekspor dan impor. Jika perlambatan terjadi di level global, ekspor Indonesia berpotensi ikut terpengaruh. Pelambatan di sektor ini juga patut untuk diantisipasi.

Di sisi lain, inflasi domestik sejauh ini masih terkendali. Meski begitu, potensi inflasi impor tetap harus diperhatikan, terutama jika harga bahan pokok terdampak. Ini akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Sekar mengingatkan pemerintah supaya tidak menganggap enteng dampak perang dagang dengan melontarkan respons yang tepat ke publik.

“Pemerintah tetap harus mencoba melihat efeknya kayak gimana. Jangan terus merasa aman dan tahan banting, padahal situasi bisa berubah cepat,” ucap Sekar.

Perang tarif AS-China memang mereda, tetapi segalanya masih tidak menentu. Diego Marroquin Bitar, seorang pakar perdagangan Amerika Utara yang juga bekerja sebagai konsultan mengungkapkan, perusahaan-perusahaan asal China mungkin menahan diri atau bahkan menunda rencana investasi mereka di banyak negara.

“Aturan mainnya masih belum pasti,” kata Bitar dalam laporan Reuters pada Selasa (13/5/2025) merespons gencatan senjata terkait perang tarif AS-China.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia