Jumat, 15 Mei 2026

Pelemahan Daya Beli Masih Berlangsung, Ekonom: Perlu Respons Fiskal Segera

Penulis : Arnoldus Kristianus
15 Mei 2025 | 20:51 WIB
BAGIKAN
Pembeli memilah kebutuhan rumah tangga di salah satu pusat perbelanjaan, Kota Sukabumi, Jawa Barat, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Henry Purba/agr/Spt)
Pembeli memilah kebutuhan rumah tangga di salah satu pusat perbelanjaan, Kota Sukabumi, Jawa Barat, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Henry Purba/agr/Spt)

JAKARTA, investor.id – Tekanan pada perekonomian membuat kelas menengah semakin menahan konsumsi dan lebih memilih menabung atau mengurangi pengeluaran tersier. Padahal daya beli merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi domestik. Kondisi tersebut menjadi alarm penting bagi pemerintah karena saat kelas menengah tertekan, mesin konsumsi nasional ikut melambat.

“Oleh karena itu dibutuhkan respons fiskal yang konkret untuk mendorong kembali aktivitas konsumsi agar sektor riil bergerak dan lapangan kerja tetap terjaga,” ucap Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi saat dihubungi pada Kamis (15/5/2025).

Kesejahteraan masyarakat tertekan karena jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat serta stagnasi pendapatan masyarakat. Imbasnya tekanan biaya hidup semakin membesar sementara pemasukan masyarakat nyaris tidak berubah.

ADVERTISEMENT

Tahun 2025 diawali dengan deflasi beruntun pada Januari dan April, inflasi baru terjadi pada Maret dan April. Pada Maret 2025 terjadi inflasi sebesar 1,03% dan April terjadi inflasi 1,95%.

Syafrudin mengatakan, untuk meningkatkan daya beli masyarakat, pemerintah perlu menjalankan bauran kebijakan jangka pendek dan jangka panjang secara terukur. Dalam jangka pendek, insentif fiskal seperti pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) untuk kelompok berpendapatan rendah dan perluasan subsidi langsung tunai terbukti efektif. Program bantuan sosial tunai yang tepat sasaran mampu meningkatkan konsumsi rumah tangga secara cepat.

Pelemahan Daya Beli Masih Berlangsung, Ekonom: Perlu Respons Fiskal Segera
Distribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025. (Ilustrasi: Investor Daily)

“Pemerintah juga harus mempercepat belanja negara di sektor padat karya agar pendapatan masyarakat langsung terdongkrak,” kata Syafruddin.

Sedangkan dalam jangka panjang, pemerintah harus fokus pada penciptaan lapangan kerja berkualitas melalui investasi infrastruktur produktif, insentif bagi industri manufaktur, serta peningkatan skill tenaga kerja. Faktor kunci lainnya adalah reformasi sistem pajak yang memberikan ruang fiskal tanpa menekan konsumsi masyarakat. Di samping itu, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga agar masyarakat memiliki kepastian dalam pengeluaran.

“Bila strategi ini dijalankan secara konsisten, daya beli masyarakat bisa pulih dan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih inklusif serta berkelanjutan,” tegas Syafruddin.

Dia mengatakan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi syarat mutlak untuk mendorong daya beli masyarakat secara efektif. Bank Indonesia (BI) harus menjaga stabilitas suku bunga dan nilai tukar agar inflasi tetap terkendali. Stabilitas harga akan menciptakan kepastian bagi masyarakat dalam mengelola konsumsi.

Di sisi fiskal, pemerintah harus memperkuat peran APBN sebagai instrumen perlindungan dan stimulus. Belanja negara diarahkan pada program padat karya, subsidi tepat sasaran, serta insentif perpajakan untuk kelas menengah.

Pelemahan Daya Beli Masih Berlangsung, Ekonom: Perlu Respons Fiskal Segera
Ilustrasi: Investor Daily

Bila BI menjaga kondisi moneter yang akomodatif dan pemerintah mempercepat belanja produktif, daya beli masyarakat akan terangkat secara signifikan. Sinergi ini harus berjalan secara terkoordinasi melalui komunikasi yang konsisten antara otoritas fiskal dan moneter.

“Dengan bekerja sama, kedua kebijakan tersebut bisa menciptakan efek pengganda ekonomi yang kuat. Langkah inilah yang dibutuhkan Indonesia agar konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Syafruddin.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 44 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 46 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia