Jumat, 15 Mei 2026

Surplus Neraca Perdagangan Tergerus

Penulis : Arnoldus Kristianus
2 Jun 2025 | 12:15 WIB
BAGIKAN
Pelabuhan ekspor impor. (Antara Foto/Andika Wahyu/mes/13.)
Pelabuhan ekspor impor. (Antara Foto/Andika Wahyu/mes/13.)

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan mengalami surplus US$ 160 juta pada April 2025. Angka ini jauh lebih rendah dari periode Maret 2025 yang sebesar US$ 4,33 miliar.

Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan bahwa surplus pada April 2025 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non migas sebesar US$ 1,51 miliar, dengan komoditas penyumbang surplus utama pertama bahan bakar mineral; lemak dan minyak hewani; serta besi dan baja.

Sedangkan neraca perdagangan migas defisit US$ 1,35 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah hasil minyak dan minyak mentah.

ADVERTISEMENT

“Neraca perdagangan barang surplus US$ 0,16 miliar dan neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus 60 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Pudji dalam konferensi pers secara hibrida di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/6/2025).

Jika dirinci, nilai ekspor mencapai US$ 20,74 miliar pada April 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 5,76% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Nilai impor Indonesia pada April 2025 mencapai US$ 20,59 miliar atau naik 21,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bila dilihat secara kumulatif sejak Januari sampai April 2025, maka neraca perdagangan barang mencatat surplus US$ 11,07 miliar. Surplus tersebut disokong oleh surplus komoditas non migas sebesar US$ 11,26 miliar.

“Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ 16,95 miliar,” ujar Pudji.

Neraca perdagangan total tiga negara penyumbang surplus terbesar, yaitu Amerika Serikat (US$ 5,44 miliar), India (US$ 3,98 miliar), dan Filipina (US$ 2,92 miliar). Negara penyumbang defisit terdalam adalah China (US$ 6,28 miliar); Singapura (US$ 2,41 miliar); Australia (US$ 1,75 miliar).

Komoditas non migas penyumbang surplus terbesar selama Januari- April 2025 adalah lemak dan minyak hewan nabati (US$ 9,85 miliar); bahan bakar mineral (US$ 9,16 miliar); besi dan baja (US$ 5,54 miliar); nikel dan barang daripadanya (US$ 2,59 miliar); dan alas kaki (US$ 2,05 miliar).

Komoditas non migas penyumbang defisit terbesar selama Januari-April 2025 adalah mesin dan peralatan mekanis (US$ 8,42 miliar); mesin dan perlengkapan elektrik (US$ 3,56 miliar); plastik dan barang dari plastik (US$ 3,56 miliar); serealia (US$ 1,19 miliar); serta instrumen, optik, fotografi, sinematografi, dan medis (US$ 950 juta).

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 7 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 58 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia