Surplus Neraca Perdagangan Tergerus
JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan mengalami surplus US$ 160 juta pada April 2025. Angka ini jauh lebih rendah dari periode Maret 2025 yang sebesar US$ 4,33 miliar.
Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan bahwa surplus pada April 2025 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas non migas sebesar US$ 1,51 miliar, dengan komoditas penyumbang surplus utama pertama bahan bakar mineral; lemak dan minyak hewani; serta besi dan baja.
Baca Juga:
Ekspor Tumbuh 5,76% pada April 2025Sedangkan neraca perdagangan migas defisit US$ 1,35 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah hasil minyak dan minyak mentah.
“Neraca perdagangan barang surplus US$ 0,16 miliar dan neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus 60 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Pudji dalam konferensi pers secara hibrida di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/6/2025).
Jika dirinci, nilai ekspor mencapai US$ 20,74 miliar pada April 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 5,76% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Nilai impor Indonesia pada April 2025 mencapai US$ 20,59 miliar atau naik 21,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bila dilihat secara kumulatif sejak Januari sampai April 2025, maka neraca perdagangan barang mencatat surplus US$ 11,07 miliar. Surplus tersebut disokong oleh surplus komoditas non migas sebesar US$ 11,26 miliar.
“Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ 16,95 miliar,” ujar Pudji.
Neraca perdagangan total tiga negara penyumbang surplus terbesar, yaitu Amerika Serikat (US$ 5,44 miliar), India (US$ 3,98 miliar), dan Filipina (US$ 2,92 miliar). Negara penyumbang defisit terdalam adalah China (US$ 6,28 miliar); Singapura (US$ 2,41 miliar); Australia (US$ 1,75 miliar).
Komoditas non migas penyumbang surplus terbesar selama Januari- April 2025 adalah lemak dan minyak hewan nabati (US$ 9,85 miliar); bahan bakar mineral (US$ 9,16 miliar); besi dan baja (US$ 5,54 miliar); nikel dan barang daripadanya (US$ 2,59 miliar); dan alas kaki (US$ 2,05 miliar).
Komoditas non migas penyumbang defisit terbesar selama Januari-April 2025 adalah mesin dan peralatan mekanis (US$ 8,42 miliar); mesin dan perlengkapan elektrik (US$ 3,56 miliar); plastik dan barang dari plastik (US$ 3,56 miliar); serealia (US$ 1,19 miliar); serta instrumen, optik, fotografi, sinematografi, dan medis (US$ 950 juta).
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






