LPEM FEB UI Perkirakan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,5%
JAKARTA,investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Mei 2025.
Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan BI sudah memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke 5,5% di bulan lalu, inflasi Mei cenderung menurun setelah lewatnya faktor musiman di April. Kemudian, masih belum terlihat adanya kenaikan pertumbuhan kredit yang signifikan pasca pemotongan suku bunga acuan.
“BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 5,50%. BI juga perlu terus memperhatikan transmisi dan efektivitas dari pemotongan suku bunga acuan sebelumnya sembari menjaga fokus dalam antisipasi dampak tekanan eksternal terhadap rupiah,” ucap dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi Rapat Dewan Gubernur BI Mei 2025 yang diterima pada Rabu (18/6/2025).
Inflasi umum bulanan pada Mei 2025 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,37% secara bulanan, berbalik dari inflasi 1,17% secara bulanan pada April 2025. Kontributor utama deflasi bulanan pada Mei 2025 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan deflasi 1,4% bulanan, berbalik dari inflasi 0,07% pada April 2025.
"Ke depan, inflasi secara tahunan maupun bulanan diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah tekanan inflasi, antara lain dampak kebijakan tarif Presiden Donald Trump, periode libur sekolah, libur panjang bulan Juni, serta masih berlangsungnya lipstick effect di tengah pelemahan daya beli masyarakat," terang dia.
Di saat yang sama, walaupun rupiah sudah menguat di beberapa minggu terakhir, masih ada risiko meningkatnya ketidakpastian di jangka pendek seiring dengan pengumuman Trump untuk melanjutkan negosiasi perdagangan.
Tekanan perekonomian global diprediksi akan meningkat seiring pengumuman Presiden Trump yang menyatakan akan menyurati mitra dagang utamanya untuk memberikan tekanan dalam perjanjian perdagangan selama dua minggu mendatang.
“Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dapat memicu investor untuk flight-to-safety dan mengalihkan investasinya ke aset safe haven,” tegas Riefky.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






