Jumat, 15 Mei 2026

LPEM FEB UI Perkirakan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,5%

Penulis : Arnoldus Kristianus
18 Jun 2025 | 11:52 WIB
BAGIKAN
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: IST/Beritasatu.com)
Gedung Bank Indonesia (BI). (Foto: IST/Beritasatu.com)

JAKARTA,investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat  Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Mei 2025.

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan  BI sudah memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke 5,5% di bulan lalu, inflasi Mei cenderung menurun setelah lewatnya faktor musiman di April. Kemudian, masih belum terlihat adanya kenaikan pertumbuhan kredit yang signifikan pasca pemotongan suku bunga acuan.

“BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 5,50%. BI juga perlu terus memperhatikan transmisi dan efektivitas dari pemotongan suku bunga acuan sebelumnya sembari menjaga fokus dalam antisipasi dampak tekanan eksternal terhadap rupiah,” ucap dalam  Laporan Seri Analisis Makroekonomi Rapat Dewan Gubernur BI Mei 2025 yang diterima pada Rabu (18/6/2025).

ADVERTISEMENT

Inflasi umum bulanan pada Mei 2025 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,37% secara bulanan, berbalik dari inflasi 1,17%  secara bulanan pada April 2025. Kontributor utama deflasi bulanan pada Mei 2025 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan deflasi 1,4%  bulanan, berbalik dari inflasi 0,07% pada April 2025.

"Ke depan, inflasi secara tahunan maupun bulanan diperkirakan akan dipengaruhi oleh sejumlah tekanan inflasi, antara lain dampak kebijakan tarif Presiden Donald Trump, periode libur sekolah, libur panjang bulan Juni, serta masih berlangsungnya lipstick effect di tengah pelemahan daya beli masyarakat," terang dia.

Di saat yang sama, walaupun rupiah sudah menguat di beberapa minggu terakhir, masih ada risiko meningkatnya ketidakpastian di jangka pendek seiring dengan pengumuman Trump untuk melanjutkan negosiasi perdagangan.

Tekanan perekonomian global diprediksi akan meningkat seiring pengumuman Presiden Trump yang menyatakan akan menyurati mitra dagang utamanya untuk memberikan tekanan dalam perjanjian perdagangan selama dua minggu mendatang.

“Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dapat memicu investor untuk flight-to-safety dan mengalihkan investasinya ke aset safe haven,” tegas Riefky.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 11 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 22 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 26 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia