Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

Penulis : Prisma Ardianto
14 Mei 2026 | 20:07 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi suku bunga. (Investor Daily/Prisma Ardianto)
Ilustrasi suku bunga. (Investor Daily/Prisma Ardianto)

JAKARTA, investor.id – DBS memperkirakan Bank Indonesia (BI) berpotensi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah yang semakin dalam dan menyusutnya cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir.

Proyeksi tersebut disampaikan DBS dalam laporan bertajuk "Indonesia Growth: Firm Start, Speed Bump Ahead". Ekonom Senior DBS untuk kawasan Uni Eropa, India, dan Indonesia, Radhika Rao, menilai arah kebijakan moneter BI mulai menunjukkan kecenderungan pengetatan (hawkish) meski suku bunga masih dipertahankan pada April 2026.

Menurut Radhika, terdapat dua faktor utama yang dapat mendorong BI beralih ke kebijakan lebih hawkish, yakni tekanan depresiasi rupiah dan potensi kenaikan harga bahan bakar bersubsidi yang berisiko meningkatkan inflasi.

ADVERTISEMENT

“Meskipun kami melihat kemungkinan kenaikan harga eceran bahan bakar lebih kecil, depresiasi rupiah akan menjadi perhatian bagi bank sentral, dengan cadangan devisa yang juga melemah dalam beberapa bulan terakhir,” ungkap Radhika dalam laporan tersebut, Kamis (14/5/2026).

Tekanan terhadap rupiah memang terus meningkat. Pada Kamis (14/5/2026), nilai tukar rupiah bertengger di level Rp 17.523 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 77 poin atau 0,44%, berdasarkan data Investing. Pemicunya yaitu tingginya permintaan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta arus modal musiman seperti repatriasi dividen.

Di saat bersamaan, ruang intervensi BI dinilai semakin terbatas setelah cadangan devisa turun US$ 2 miliar menjadi US$ 146,2 miliar pada April 2026. Jika dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar US$ 156,5 miliar, cadangan devisa Indonesia telah menyusut US$ 10,3 miliar.

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
Tren suku bunga BI lima tahun terakhir. (Ilustrasi: Investor Daily)

“Skenario dasar kami adalah BI akan mempertahankan suku bunga pada kuartal ini, namun kami melihat kemungkinan yang semakin besar untuk kenaikan suku bunga yang terukur guna mempertahankan nilai tukar pada kuartal kedua,” ujar Radhika.

DBS juga menyoroti kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus meningkat untuk menarik minat investor asing. Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk pengetatan terselubung melalui instrumen pasar uang.

Menurut DBS, pelebaran selisih antara BI-Rate dan imbal hasil SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN) jangka pendek berpotensi menimbulkan sejumlah dampak terhadap sistem keuangan. Beberapa di antaranya ialah pergeseran arus dana ke instrumen jangka pendek, kenaikan imbal hasil tenor 1-2 tahun, penyerapan likuiditas perbankan, hingga berkurangnya ruang ekspansi kredit produktif.

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

“Investor kemungkinan akan memperhatikan perkembangan ini tahun ini juga,” imbuh Radhika.

Selain itu, BI juga disebut akan melonggarkan pembatasan partisipasi bank domestik di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam kebijakan tersebut, dealer utama tertentu akan diizinkan menjual NDF di pasar luar negeri agar harga NDF offshore lebih selaras dengan pasar domestik.

Sementara dari sisi inflasi, DBS menilai tingkat inflasi Indonesia sebesar 2,4% secara tahunan masih sesuai perkiraan. Namun, kenaikan bertahap Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) perlu menjadi perhatian karena berpotensi diteruskan ke harga konsumen dalam beberapa waktu ke depan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 31 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 41 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 42 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 53 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia