APBN Masih Kuat Topang Dampak Konflik Iran-Israel
JAKARTA, investor.id – Perekonomian dunia semakin dibayangi ketidakpastian menyusul meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya Iran dan Israel yang saling melancarkan serangan militer sejak Sabtu (14/6/2025) lalu.
Pergerakan terkini menunjukan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menolak tuntutan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyerah tanpa syarat. AS yang berada di sisi Israel kini tengah mempertimbangkan untuk menyerang Iran secara langsung.
Pergolakan yang terjadi di Timur Tengah dapat menimbulkan dampak secara langsung terhadap negara-negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah lonjakan harga minyak global.
Baca Juga:
Bangsa Iran Tidak Akan MenyerahPada hari ini, Kamis (19/6/2025) harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,5% menjadi US$ 76,08 per barrel. Di sisi lain, minyak mentah WTI berjangka turun 0,3% menjadi US$ 74,60 per barrel.
Meskipun menurun dari hari sebelumnya, namun harga tersebut tetap berada di titik tertinggi sejak Februari. Tingginya harga ‘emas hitam’ tersebut dikhawatirkan masih akan berlanjut dan mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi tumpuan hidup bagi sebagian masyarakat Indonesia.
Juru Bicara Istana, Fithra Faisal mengatakan bahwa pemerintah telah mengantisipasi kemungkinan terburuk yang dapat mempengaruhi Indonesia. Menurutnya, jauh-jauh hari, pemerintah telah menyiapkan program ketahanan pangan dan ketahanan energi.
“Yang bisa kelihatan di kuartal I adalah dengan program ketahanan pangan, itu pertumbuhan di sektor pertanian 10,53% di kuartal I. Itu bahkan kita sudah bisa untuk membuat kapasitas beras kita itu meningkat secara cukup signifikan,” ungkap Fithra saat dihubungi pada Kamis (19/6/2025).
Dia menerangkan, ketersediaan pangan cukup di dalam negeri akan menjaga harga pangan tetap di level rendah. Ini juga tercermin dari tingkat inflasi yang baru menyentuh 1,6%
“Sehingga, segala kemungkinan terburuk itu sudah merupakan bagian dari rencana mitigasi pemerintah,” imbuh Firtha.
Ia mengatakan, pemerintah telah merancang adanya cadangan anggaran dalam struktur APBN. Sumber dana ini berasal dari alokasi anggaran sebelumnya yang dinilai kurang produktif. Selanjutnya, cadangan fiskal ini bisa digunakan pemerintah untuk mengantisipasi memburukan perekonomian imbas risiko geopolitik antara Iran dan Isreal.
“APBN masih kuat. Pemerintah juga berencana untuk terus melakukan intervensi. Bahkan dual intervention dari sisi demand dan dari sisi produksi. Kalau kita menggunakan kemungkinan terburuk,” tambah Firtha.
Oleh karena itu, Firtha berpesan kepada masyarakat untuk tidak khawatir terhadap dampak yang timbul akibat krisis geopolitik tersebut. “Masyarakat tidak perlu khawatir, tetap belanja, tetap beraktivitas ekonomi, tidak perlu takut, (dana) pemerintah selalu tersedia, dan ekonomi akan selalu bergerak,” pungkas Firtha.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






