Airlangga Sebut Kinerja Manufaktur Anjlok Akibat Perang Dagang
JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang terkontraksi lebih dalam pada Juni 2025 disebabkan karena sentimen perang dagang. Namun secara keseluruhan, dia menilai ekonomi Indonesia masih dalam jalur yang sesuai.
“Namun akibat dari perang dagang, memang PMI kita turun di 47,4,” ujar Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (2/7/2025).
S&P Global dalam laporannya menerangkan bahwa PMI Manufaktur Indonesia pada periode Juni 2025 sebesar 46,9 atau dalam jalur kontraksi. Angka itu terperosok makin dalam setelah pada Mei 2025 tercatat di level 47,4.
Kendati demikian, Airlangga mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian dalam negeri masih relatif cukup baik di tengah ketidakpastian dan guncangan perekonomian global. Terkendalinya ekonomi RI tercermin dari sejumlah indikator seperti terkendalinya inflasi dan kinerja neraca perdagangan.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 4,3 miliar pada Mei 2025. Diketahui, ekspor Indonesia pada Mei 2025 mencapai US$ 24,61 miliar dan impor sebesar US$ 20,31 miliar.
Surplus neraca perdagangan pada Mei 2025 disokong oleh surplus komoditas non-migas seniali 5,83 miliar dolar AS, dengan komoditas penyumbang surplus adalah lemak dan minyak hewani/nabati; bahan bakar mineral; serta besi dan baja. Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas mengalami defisit 1,53 miliar dolar AS.
"Jadi kalau kita lihat neraca perdagangan Indonesia di bulan Mei kembali surplus yang ke-61 bulan berturut-turut dengan positif US$ 4,3 miliar," ungkap Airlangga.
Untuk menekan besaran nilai impor komoditas energi, Airlangga menegaskan pemerintah kini berupaya mewujudkan swasembada energi. Aspirasi itu dijalankan pemerintah melalui optimalisasi lifting minyak dan gas, serta mengembangkan potensi energi baru dan terbarukan (EBT).
Sementara inflasi secara bulanan tercatat sebesar 0,19% pada Juni 2025. Secara tahun berjalan atau year to date (ytd) terjadi inflasi 1,38%.
Adapun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kelompok utama penyumbang inflasi Juni 2025, dimana sebelumnya menjadi penyumbang deflasi Mei 2025. Tingkat inflasi kelompok ini sebesar 0,46 persen dengan andil inflasi sebesar 0,13 persen.
Dengan adanya catatan inflasi yang terkendali dan kinerja surplus perdagangan, Airlangga menyebut kondisi perekonomian domestik berada pada jalur yang cukup baik. “Angka inflasi kita pun di bawah target 2,5 plus minus 1. Jadi sebetulnya perekonomian kita masih on the track,” tandas Airlangga.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Tag Terpopuler
Terpopuler






