Jumat, 15 Mei 2026

Daya Tawar Indonesia Tinggi, Tarif AS Masih Bisa Diupayakan 10-15%

Penulis : Akmalal Hamdhi
17 Jul 2025 | 17:50 WIB
BAGIKAN
Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

JAKARTA, investor.id – Presiden Prabowo Subianto mengaku belum puas terhadap hasil negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) yang membuahkan tarif untuk produk-produk Indonesia sebesar 19%, dari yang dipatok sebelumnya 32%. Sementara produk-produk AS yang masuk ke Indonesia bebas tarif atau 0%.

“Kalau puas ya 0%,” kata Presiden Prabowo kepada wartawan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (16/7/2025), usai kunjungan kenegaraaan selama dua pekan ke sejumlah negara.

Di sela-sela pernyataan persnya itu, Kepala Negara juga telah menyatakan bahwa dalam hal negosiasi, Indonesia harus tegas memposisikan diri. “Kita juga punya sikap: ini tawaran kita, kita tidak mampu memberi lebih,” kata Prabowo.

ADVERTISEMENT

Terlebih, kata Presiden, perekonomian Indonesia kuat dan dalam kondisi yang aman. Ini menjadi data tawar untuk bernegosiasi ke depan, sehingga ia mengaku tak menutup ruang untuk kembali berunding dengan Presiden AS Donald Trump tentang besaran tarif.

“Ya saya tetap nego,” kata Prabowo, seraya memuji Trump sebagai negosiator yang ‘cukup keras’.

Di sisi lain, Ekonom Celios, Nailul Huda menilai kesepakatan baru tarif AS dan Indonesia dinilai bukanlah suatu kemenangan. Jika tarif 19% untuk Indonesia dan 0% untuk AS itu benar-benar ditetapkan, maka dapat dikatakan bahwa pada akhirnya Indonesia menyerah dalam negosiasi tarif impor dengan AS. Tarif impor itu menjadi timpang, tidak adil.

Sebagai perbandingan, Huda mencontohkan hasil negosiasi Vietnam. Meski Indonesia dikenakan tarif 1% lebih rendah daripada Vietnam yang memperoleh tarif 20%, namun penurunan tarif AS untuk Vietnam cukup drastis dari awalnya 46%.

Menurut dia, Indonesia memiliki daya tawar yang lebih tinggi daripada Vietnam. Dalam hal ini, Vietnam memiliki ketergantungan ekspor ke AS. Vietnam sendiri mencatat AS sebagai pasar ekspor utama dan terbesar. Sementara itu, tujuan terbesar ekspor Indonesia adalah China.

“Kami berpikir tarif bisa lebih rendah lagi daripada 19%, harusnya bisa 10-15%. Kita negosiasinya cukup kalah dibandingkan Vietnam, mereka lebih efektif negosiasi dengan AS,” ucap Huda dalam program Investor Daily Talk, Kamis (17/7).

Daya Tawar Indonesia

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia