Jumat, 15 Mei 2026

Imbas Tarif Trump, Waspadai Banjirnya Impor Produk China

Penulis : Euis Rita Hartati
27 Jul 2025 | 18:08 WIB
BAGIKAN
Pembicara dalam  diskusi Navigating Regulation Shifts and Market Uncertainties in Indonesia and ASEAN di Jakarta,
Pembicara dalam diskusi Navigating Regulation Shifts and Market Uncertainties in Indonesia and ASEAN di Jakarta,

JAKARTA, investor.id - Imbas penerapan tarif perdagangan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah negara termasuk Indonesia, diyakini akan terasa dalam beberapa bulan ke depan. Salah satunya adalah masuknya produk China ke Indonesia. Hal ini karena China akan berusaha mencari pasar yang lebih menarik karena Negeri Panda itu terkena tarif yang relatif tinggi oleh AS.

“Kita harus concern dengan masuknya produk China ke sini. Mereka enggak masuk AS, tapi kita akan jadi sasarannya,” kata Wakil Ketua Umum bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Kadin Indonesia Aviliani dalam diskusi Navigating Regulation Shifts and Market Uncertainties in Indonesia and ASEAN di Jakarta, pekan lalu.

Narasumber lain pada diskusi ini adalah Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dan Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir. Hadir pula Global Markets Director UOB Indonesia Sonny Samuel dan Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia Maya Rizano.

ADVERTISEMENT

Diskusi ini menyoroti respons strategis terhadap dinamika perdagangan internasional, mulai dari rencana pemberlakuan tarif impor 19% oleh Presiden AS Donald Trump, bea masuk 0 (nol) persen untuk barang asal AS, hingga meningkatnya ketegangan China-Barat yang memecah rantai pasok global.

Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, menurut Aviliani, dunia industri harus tetap optimistis agar ekonomi nasional tetap tumbuh. “Ke depan kita akan penuh dengan ketidakpastian. Kita tidak boleh diam saja, Kita harus berbubat sesuatu. Jika tidak kita lakukan sekarang, kita akan terlambat. Tentu saja kita harus optimistis karena demand kita masih cukup tinggi, tinggal bagaimana kita membuat demand kita itu semakin mempunyai daya beli, tidak hanya dinikmati oleh kalangan kelas atas,” beber Aviliani.

Mencermati kondisi tersebut, Kadin saat ini sedang merumuskan kebutuhan dunia usaha termasuk sektor apa saja yang memerlukan antisipasi guna mengurangi dampak tarif.

Menurut Aviliani, dari sekian banyak sektor usaha di Tanah Air, saat ini yang masih relatif tumbuh dengan baik adalah sektor jasa. Sehingga untuk menarik investasi dari luar negeri yang diperlukan ada meningkatkan daya saing industrinya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Kementerian Koodinator bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengungkapkan, tarif dagang yang diterapkan oleh AS ke sejumlah negara termasuk Indonesia diakuinya akan berdampak pada meningkatnya dinamika global. Sehingga, pemerintah kini mewaspadai tekanan eksternal, terutama dari sektor perdagangan luar negeri.

“Sejumlah komponen ekspor-impor akan terpengaruh akibat kebijakan tarif dari negara mitra dagang, serta akibat meningkatnya ketegangan geopolitik yang menyebabkan gangguan rantai pasok logistik,” kata dia.

Pemerintah menilai kondisi global ini sebagai peluang untuk menarik investasi, terutama dari China, tetapi sekaligus mengingatkan pentingnya memperhatikan daya saing industri lokal agar tidak tergerus oleh teknologi dan efisiensi dari investor asing yang masuk.

Sektor keuangan juga menjadi sorotan. Meski Dana Pihak Ketiga (DPK) dan likuiditas perbankan dinilai masih aman, pemerintah tetap mencermati indikator makro lainnya seperti kinerja kredit modal kerja dan investasi.

Di sisi lain, investasi tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan, dengan optimisme bahwa target investasi sebesar Rp 1.900 triliun tahun ini bisa tercapai. Namun demikian, perlu ada keseimbangan agar investasi baru tidak menekan industri yang telah eksis, terutama dalam sektor-sektor yang menyumbang besar pada konsumsi rumah tangga, mengingat konsumsi dalam negeri masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sementara Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir mengatakan,UOB Indonesia, melalui forum ini, menegaskan komitmennya untuk menjadi lebih dari sekadar institusi keuangan, yakni sebagai katalis transformasi bisnis dan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia dan kawasan ASEAN

“Dari sisi perbankan, kita selalu menambah wawasan dalam hal informasi. Kami selalu berusaha untuk mendapatkan informasi terdepan, untuk memastikan bahwa nasabah kami itu mendapatkan informasi terkini agar mereka dapat mengambil keputusan yang tepat,” ungkap Edwin.

Editor: Euis Rita Hartati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia