Jumat, 15 Mei 2026

Wamendagri: Kontribusi PAD Stagnan di 20-25% Selama 10 Tahun Terakhir

Penulis : Arnoldus Kristianus
25 Aug 2025 | 17:55 WIB
BAGIKAN
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, di Jakarta, belum lama ini. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto, di Jakarta, belum lama ini. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan bahwa meskipun memiliki peranan vital dalam kemandirian fiskal, kinerja Pendapatan Asli Daerah (PAD) cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir. Kontribusi PAD terhadap total pendapatan daerah hanya berkisar 20-25% sejak tahun 2015.

“Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yaitu dari 2015 sampai 2025, itu kontribusi PAD terhadap total PAD stagnan di kisaran 20-25% saja,” ucap Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto dalam rapat kerja di Gedung DPR pada Senin (25/8/2025).

Bima menyebutkan adanya kesenjangan yang signifikan antar daerah. Ia mencontohkan, rasio PAD terhadap pendapatan di DKI Jakarta mencapai 80%, sementara di wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur masih di bawah 15%.

“Hal ini menunjukkan terjadinya kesenjangan secara horizontal antara daerah yang masih senjang,” ujar Bima.

ADVERTISEMENT

Menurut Bima, pemerintah pusat harus menerapkan kebijakan fiskal yang lebih asimetris dan berbasis potensi daerah, tidak lagi menyamaratakan. Kebijakan anggaran perlu disesuaikan dengan kemampuan unik setiap daerah. “Jadi tidak memukul rata, tetapi ada target daerah yang ditimbang dalam melakukan kebijakan-kebijakan fiskal,” tuturnya.

Efektivitas PAD sangat bergantung pada koordinasi antarinstansi seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), dan Dinas Komunikasi dan Informatika. Selain itu, reformasi birokrasi fiskal dan integrasi sistem informasi keuangan juga menjadi prasyarat keberhasilan.

Bima turut menyinggung tantangan yang dihadapi pemerintahan baru dalam mengejar target PAD karena perlu melakukan akselerasi antarlembaga, rotasi-mutasi, dan penyesuaian dari kepala daerah yang baru dilantik.

“Biasanya pemerintahan baru ketika masih melakukan fase konsolidasi, maka biasanya agak berat mengejar target. Pasalnya mereka perlu untuk melakukan akselerasi antar lembaga, mengingat juga ada rotasi-mutasi dan kepala daerah yang baru,” kata Bima.

Sebagai informasi, realisasi pendapatan APBD provinsi dan kabupaten/kota per 22 Agustus 2025 baru mencapai Rp 726,04 triliun atau 54,44% dari pagu Rp 1.353,08 triliun. Secara umum, 72% dari struktur PAD nasional masih didominasi oleh pajak daerah. Bima meyakini bahwa daerah dengan sumber daya manusia yang andal dan mampu mereformasi sistem informasi keuangan akan memiliki kinerja fiskal yang lebih baik.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 40 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 42 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia