Jumat, 15 Mei 2026

Pemerintah Perlebar Defisit RAPBN 2026 Jadi Rp 689,1 Triliun

Penulis :  Arnoldus Kristianus
18 Sep 2025 | 14:07 WIB
BAGIKAN
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah. (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah. (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah akan menambah defisit menjadi Rp 689,1 triliun dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Angka tersebut merupakan penambahan defisit Rp 50,3 triliun dari alokasi sebelumnya, yang sebesar Rp 638,8 triliun.

Ketua Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Said Abdullah mengatakan bahwa kenaikan defisit ini tidak terlepas dari kebutuhan pemerintah untuk membiayai program prioritas pembangunan hingga kebutuhan pemerintah daerah.

Bila dilihat dari sisi perbandingan defisit ke produk domestik bruto, maka rasio defisit ikut berubah dari 2,48% dari PDB menjadi 2,68%. Rasio defisit naik 0,2% dari perencanaan awal.

ADVERTISEMENT

“Kenaikannya untuk belanja K/L (Kementerian/Lembaga), lalu untuk TKD (Transfer ke Daerah) yang naik Rp 43 triliun. Sedangkan sisanya belanja pemerintah pusat khususnya pendidikan dan beberapa K/L serta di cadangkan," ungkap Said dalam rapat kerja di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (18/9/2025).

Secara keseluruhan, belanja negara mengalami peningkatan Rp 56,2 triliun dari yang awalnya Rp 3.786,5 triliun menjadi Rp 3.842,7 triliun. 

Bila dirinci, belanja K/L naik Rp 12,29 triliun dari yang sebelumnya Rp 1.498,2 triliun menjadi Rp 1.510,5 triliun. Kemudian, belanja non K/L naik dari Rp 1.6388,2 triliun menjadi Rp 1.644 triliun. Lalu transfer ke daerah meningkat Rp 43 triliun dari Rp 649 triliun menjadi Rp 693 triliun.

“Tentu kenaikan Rp 43 triliun ini sesuai dengan permintaan dari komisi-komisi dan berbagai pemberitaan yang demikian dahsyastnya urusan TKD dari Rp 650 triliun direspon oleh pemerintah naik menjadi Rp 693 triliun,” papar Said.

Pada saat yang sama, pendapatan negara ditargetkan naik Rp 5,9 triliun menjadi Rp 3.153,6 triliun. Adapun kenaikan target pendapatan negara bersumber dari kepabeanan dan cukai sebesar Rp 336 triliun atau meningkat Rp 1,7 triliun. Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) meningkat Rp 4,2 triliun menjadi Rp 455,2 triliun.

“Target kepabeanan dan cukai naik Rp 1,7 triliun, PNBP naik Rp 4,2 triliun sedangkan target hibah tidak ada perubahan tetap di angka Rp 666,3 triliun,” tutur Said.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia