Harga Minyak Melonjak, Ini Tiga Saran Ekonom Terkait Harga BBM
JAKARTA, investor.id–Harga minyak mentah melonjak hingga US$100 per barel menyusul eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah (Timteng). Menyikapi situasi itu, pemerintah bisa menempuh tiga langkah strategis, yakni menjamin paskan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri lancar, memastikan impor minyak mentah dan BBM berjalan baik, serta mendorong peningkatan peran energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi.
Menurut ekonom senior dari Universitas Paramadina Wijayanto Samirin, terdapat potensi harga minyak mentah terus naik karena suplai yang terganggu oleh konflik Iran. Pada 1980, harga minyak melejit hingga US$180-200 per barel (jika di-adjust terhadap inflasi), hal itu disebabkan oleh revolusi Iran yang diikuti nasionalisasi produksi minyak. Iran, Selat Hormuz, dan kawasan Teluk Persia, memang memegang posisi kunci suplai gas dan minyak dunia.
Efek dari situasi tersebut maka Indonesia perlu memberikan alokasi lebih untuk subsidi BBM dan gas sehingga harga keduanya tidak melejit. Apabila itu tidak dilakukan maka akan menimbulkan inflasi dan mengerem laju pertumbuhan ekonomi. “Perkiraan saya, dengan asumsi konflik berkepanjangan, untuk subsidi BBM secara terbatas saja perlu tambahan sekitar Rp120-160 triliun tahun ini. Karena itu, pemerintah perlu melakukan sedikitnya tiga langkah strategis. Khusus di bulan ini, pasokan BBM harus dijaga guna menyambut mudik Lebaran.” ungkap Wijayanto,
Sedikitnya ada tiga langkah strategis yang harus dilakukan pemerintah dalam menyikapi situasi terkini di Timteng. Pertama, dalam bulan Maret, pemerintah harus memastikan pasok dan distribusi BBM dalam negeri aman terutama menyambut momentum mudik Lebaran. Kedua, dalam bulan-bulan mendatang, pemerintah harus memastikan importasi minyak mentah dan BBM lancar serta tersedia dana yang memadai untuk membiayai subsidi energi.
Ketiga, dalam jangka panjang, pemerintah harus memperbaiki diversifikasi suplai minyak bumi. Saat ini, Indonesia terlalu tergantung pada Timteng, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lalu, bauran energi di Indonesia perlu diperbaiki, dengan mendorong peran EBT. “Situasi saat ini perlu jadi momentum untuk mendorong EBT,” tandas dia.
Harga BBM
Terkait perlu tidaknya penyesuaian harga BBM subsidi di dalam negeri, Wijayanto menuturkan, untuk Pertalite dan Bio Solar perlu dipertahankan harganya, baru dinaikkan jika harga minyak dunia benar-benar melejit. “Ini karena saat ini inflasi mulai merangkak naik dan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, perlu dijaga,” kata dia.
Dia juga mengatakan, respons lain yang mesti ditempuh pemerintah adalah mengurangi ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Saat ini tidak ada pilihan, kecuali memangkas untuk sementara (anggaran MBG), baru dikembalikan saat kondisi fiskal memungkinkan,” tandas dia.
Sedangkan pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyatakan, dirinya sudah menghitung estimasi harga dan subsidi dari BBM jenis Pertalite dan efeknya kepada APBN. Asumsi penerimaan negara dan belanja dasar yang digunakan berasal dari APBN. Jika ada perubahan tentu akan berubah juga hasilnya. Menurut Nailul, pilihan rasional saat ini adalah menggeser anggaran, misalnya dari pos MBG, ke pos subsidi BBM.
Dalam acuan harga minyak mentah di MOPS, saat ini banderolnya sudah di angka US$97 per barel dengan harga Brent US$92 per barel. Selain itu, harga kontrak tertinggi yang terjadi di dalam MOPS mencapai US$144 per barrel. Sedangkan untuk estimasi beberapa lembaga, harga minyak mentah global bisa mencapai US$120 per barrel.
Dengan asumsi tersebut didapatkan hasil jika harga menyentuh US$97 per barel maka harga keekonomian Pertalite Rp15 ribu per liter. Sedangkan jika harga minyak mentah di MOPS mencapai US$144 dan US$120 per barel maka harga Pertalite seharusnya Rp17.400 per liter dan Rp18.200 per liter. “Tapi opsi menaikkan harga Pertalite dapat berakibat buruk terhadap konsumsi rumah tangga,” ujar dia.
Editor: Tri Listiyarini
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






