Kontribusi 54,36%, Konsumsi Rumah Tangga Sokong Ekonomi RI Triwulan I-2026
JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi pengeluaran pada awal tahun ini. Sektor konsumsi tercatat tumbuh 5,52% dan mendominasi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan I-2026 dengan porsi mencapai 54,36%.
“Konsumsi rumah tangga tumbuh seiring momentum Hari Besar Keagamaan dan peningkatan mobilitas masyarakat,” ucap Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers secara hibrida di Gedung BPS pada Selasa(5/5/2026).
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61% pada triwulan I-2026. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.447,7 triliun.
Berdasarkan pengeluaran, kelompok restoran dan hotel mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,38%. Lonjakan ini selaras dengan tren peningkatan perjalanan wisatawan nusantara selama periode liburan. Selain itu, konsumsi di sektor transportasi dan komunikasi ikut terkerek naik 6,91%.
“Hal ini juga didorong oleh tingginya mobilitas masyarakat yang tercermin dari meningkatnya jumlah penumpang angkutan rel, laut, dan udara,” terang Amalia.
Selain konsumsi rumah tangga, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 5,96% dan kontribusi sebesar 28,29%. Pertumbuhan PMTB ini ditopang oleh investasi pada komponen kendaraan yang melesat 12,39%, serta subkomponen mesin dan perlengkapan sebesar 10,78%.
Realisasi ini berjalan beriringan dengan peningkatan investasi di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar 7,22% yoy menjadi Rp 498,79 triliun. Dari nilai tersebut, tercatat sebanyak 706.569 tenaga kerja baru terserap, atau meningkat 18,93% yoy.
Di samping itu, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah mencatat lonjakan paling drastis hingga 21,81% dengan kontribusi 6,72%. Lonjakan ini dipicu oleh peningkatan belanja pegawai untuk gaji ke-14 (THR) dan pengangkatan ASN baru, serta belanja barang dan jasa yang signifikan.
“Terutama pada belanja barang yang diserahkan ke masyarakat berupa program makan bergizi gratis,” pungkas Amalia.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






