Satria Mega Fokus pada Bisnis Hotel dan Kawasan Wisata
JAKARTA, investor.id – PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) melalui anak usahanya, PT Dwimukti Mitra Wisata (DMW), akan terus mengembangkan perhotelan dari aset yang dimiliki oleh perseroan ke depannya. DMW bekerja sama dengan pemilik merek Sotis Hotel, yang merupakan operator dari tiga hotel yang dimiliki oleh perseroan, yaitu Sotis Hotel Falatehan Jakarta, Sotis Hotel Pejompongan Jakarta, dan Sotis Villa Canggu Bali.
Satria Mega Kencana merupakan perusahaan yang bergerak di bidang properti, kawasan pariwisata, dan aktivitas perusahaan holding. Selain menjalankan bisnis hotel melalui DMW, perseroan melalui anak usaha lainnya, yaitu PT Tanjung Karoso Permai (TKP), memiliki aset tanah dan akan mengoperasikan kawasan di Tanjung Karoso, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). TKP akan mewujudkan rencana strategis perseroan jangka waktu panjang dalam meningkatkan zona pariwisata di Tanjung Karoso.
Direktur Utama Satria Mega Kencana Stevano Adranacus mengatakan, tahun 2019 merupakan tahun pertama perseroan menjalankan kinerjanya sebagai perusahaan terbuka. Perseroan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Desember 2018.
Setelah itu, perseroan mengakuisisi Sotis Residence Penjernihan dengan tujuan menyatukan operasional unit hotel Sotis dan mempermudah perseroan dalam mengelola operasional hotel Sotis. “Sepanjang 2019, perseroan maupun entitas anak telah mengembangkan kepemilikan aset dan mulai melakukan beberapa proyek pembangunan pariwisata,” kata Stevano dalam paparan publik melalui video conference, Rabu (22/7).
Dia menegaskan, perseroan memulai konstruksi awal hotel di Canggu, Bali, yang merupakan pengembangan dari Sotis Villa Canggu Bali. Properti tersebut akan menjadi hotel bintang 3 dengan kapasitas 100 kamar yang akan menjadi satu dengan grup Sotis dan dikelola oleh Sotis Hotels.
Perseroan juga meneruskan finalisasi pengembangan properti di kawasan Tanjung Karoso. Dalam menunjang realisi visinya, perseroan telah berdiskusi dengan pemerintah setempat di Sumba Barat Daya atas pencanangan perseroan dalam mengurangi pembuangan sampah plastik dalam rangka mewujudkan Sumba menjadi tujuan pariwisata.
Lebih lanjut Stevano mengatakan, dampak pandemi Covid-19 membuat tingkat okupansi hotelnya hanya susut 5%. "Sebelum pandemi okupansi masih baik di 60%-70%, Maret dan April turun hingga 5% dan Mei-Juni ada perbaikan," ujarnya. Sebab itu, ia menilai hingga akhir tahun ini apabila tingkat okupansi menncapai 50% saja sudah baik.
Sementara itu, di lini kawasan pariwisata, dia mengatakan bahwa pada masa pemerintahan Joko Widodo, industri ini ditempatkan sebagai kendali utama perekonomian Indonesia. Pariwisata diyakini sebagai salah satu metode yang termurah dan tercepat dalam menambah cadangan devisa dalam rangka pertumbuhan ekonomi.
Perseroan juga percaya bahwa prospek industri real estat secara keseluruhan di Indonesia di masa mendatang akan stabil, dengan sektor akomodasi atau perhotelan menjadi pendorong utama industri ini. Perseroan berupaya untuk memantapkan posisinya dalam peta industri properti pada umumnya dan perhotelan pada khususnya di Indonesia.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






