Gagal Bayar Utang ke BNI, Pergerakan Saham PSAB Berpotensi Tertekan
JAKARTA,Investor.id – Pergerakan harga saham PT J Resources Asia Pasifik Tb(PSAB) berpotensi mengalami tekanan, menyusul adanya sentimen negatif gagal bayar fasilitas B pinjaman senilai US$ 40 juta kepada PT Bank Negara Indonesia Tb (BBNI).
Aapalagi gagal bayar pinjaman tersebut bisa berimbas terhadap terhadap pinjaman lainnya yang diterbitkan perseroan, termasuk obligasi.
Analis Pasar Modal Reza Priyambada mengatakan, pelaku pasar akan menjaga portofolio investasinya dengan menjauhi emiten-emiten yang sedang mengalami persoalan kewajiban pelunasan utang, seperti yang dialami J Resources melalui anak usahnya, J Resources Nusantara.
“Pelaku pasar akan melihat sejauh mana kasus ini dapat diselesaikan, umumnya kalau ada permasalahan maka pelaku pasar akan menjauhi dulu sampai terdapat penyelesaian kasus ini,” katanya di Jakarta, Selasa(14/9).
Menurut Reza, tekanan jual terhadap saham PSAB akan berlanjut, jika penyelesaian permalasahan ini berujung pada penyitaan aset emiten tambang emas itu. “Hal itu akan berdampak kegiatan operasional PSAB,” terangnya.
Di sisi lain sisi lain terang Reza, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengamati penyelasaian permasalahan kasus ini. “Potensi suspend ada, tapi kalau pengaruhnya tidak signifikan paling hanya diminta menyampaikan keterangan,” tuturnya.
Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) meminta J Resources Nusantara (JRN), anak usaha J Resources Asia Pasifiksegera membayar kredit yang telah jatuh tempo sesuai perjanjian pada 31 Agustus 2021.
Hal itu tertuang dalam jawaban BBNI atas pertanyaan regulator bursa yang diunggah pada laman bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (10/9).
“Kredit telah jatuh tempo pada tanggal 31 Agustus 2021 dan sesuai perjanjian, kewajiban tersebut harus segera diselesaikan,” tulis manajemen BBNI.
BNI menyebutkan bahwa pihaknya telah mempertimbangkan prospek bisnis industri pertambangan serta kemampuan bayar anak usaha J Resources sebelum mengucurkan pinjaman itu. Oleh sebab itu, BNI telah melakukan mitigasi atas potensi risiko yang terjadi seperti menetapkan pencadangan.
Sementara itu, PSAB juga telah menyampaikan jawabanya atas pernyataan BBNI itu. Dalam jawaban J Resources kepada BEI disebutkan tengah dalam proses pembiayaan ulang atas Fasilitas B senilai US$ 40 juta kepada BBNI. Bahkan, pada tanggal 27 Agustus 2021, perseroan dan salah satu pihak yang akan memberikan fasilitas refinancing atas Fasilitas B melakukan pertemuan dengan BBNI.
Dalam pertemuan tersebut, pihak JRN akan membayarkan sebagian dari Fasilitas B, yaitu sebesar USD 5 juta sebelum tanggal 31 Agustus 2021 dan sisa dari Fasilitas B, yaitu sebesar USD 32,987 juta beserta bunganya akan dibayarkan secara penuh paling lambat tanggal 30 September 2021.
Selanjutnya, pada tanggal 27 Agustus 2021, JRN mengirimkan surat kepada BBNI yang berisi mengenai komitmen JRN untuk melaksanakan hasil diskusi antara JRN dan BBNI tersebut dan pada tanggal 30 Agustus 2021.
Ditegaskan, JRN telah membuktikan komitmennya sesuai hasil diskusi pada tanggal 27 Agustus 2021, dengan melakukan pembayaran sebagian Fasilitas B kepada Bank BNI, yaitu sebesar USD 5 juta.
Sayangnya, pada 1 September 2021, JRN menerima surat dari BBNI yang menyatakan bahwa Fasilitas A dan Fasilitas B yang telah diutilisasi oleh JRN berdasarkan Secured Facilities Agreement, yaitu sebesar USD 95,087 juta menjadi jatuh tempo dan harus dibayar secara sekaligus dan seketika.
“Kami sangat terkejut karena isi dari surat tersebut sangat berbeda dengan hasil pertemuan antara JRN dan BNI pada tanggal 27 Agustus 2021,” tulis manajemen PSAB.
Untuk diketahui, fasilitas B senilai USD50 juta yang diraih pada tanggal 12 April 2019 sejatinya jatuh tempo pada tanggal 12 April 2020. Rencananya, fasilitas ini akan dilunasi dengan dana hasil right issue.
Selain, itu JRN juga mendapat Fasilitas A sebesar USD 96, 529 juta yang akan jatuh tempo pada 16 Maret 2024. Kemudian, Fasilitas C sebesar USD 95, 455 juta yang akan jatuh tempo 8 tahun sejak tanggal perjanjian.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler


