Valuasi Relatif Murah, Akumulasi Beli Bisa Jadi Opsi Saham Adhi Commuter Properti (ADCP)
JAKARTA, investor.id – Valuasi saham-saham properti di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) yang merupakan salah satu pengembang properti berkonsep TOD, saat ini dinilai sudah relatif murah.
Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan menilai, secara valuasi saham-saham properti sudah sangat murah. Hal ini dapat terlihat saat membandingkan nilai saham dengan nilai aset propertinya (nett asset value/NAV). Saat ini rata-rata harga saham-saham properti telah terdiskon 60%-70% dari NAV. Begitu juga dengan perbandingan harga saham terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) yang per akhir Januari rata-rata hanya 0,6 kali atau terdiskon 40% dari nilai bukunya.
Menurut Marolop, dalam kondisi saat ini dimana ekonomi sedang menuju pemulihan, kondisi harga saham properti masih tertinggal. “Apalagi kalau melihat performa emiten-emiten properti sampai kuartal III 2021 memberikan hasil yang sangat baik yang mengindikasikan pemulihan sektor properti,” katanya, Rabu (02/03/2022).
Dia menilai, khusus saham ADCP koreksi harga sebesar 23% dari harga IPO menjadi Rp 100 per saham dipengaruhi dinamika pasca pencatatan yaitu aksi profit taking dan cut loss para investor melihat performa perdagangan di bursa yang tidak sesuai ekspektasi. Berdasarkan perhitungan memakai PE Multiple dengan target manajemen untuk pertumbuhan laba bersih tahun 2021 sebesar 15%, maka nilai laba per saham (earning per share/EPS) perusahaan adalah Rp 7.
Dengan demikian, rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) perusahaan adalah 15 kali, jauh di bawah rata-rata PER emiten properti per Januari 2022 sebesar 31 kali. Namun, rasio PBV tercatat 0,9 kali atau berada di atas PBV industri 0,6 kali. “Mungkin nanti bisa dilihat juga untuk diskon terhadap NAV-nya,” jelas Marolop.
Baca Juga:
Terhubung Langsung LRT, Adhi Commuter (ADCP) Percepat Proyek Hunian di Jatibening dan BekasiSelain faktor pasar, ADPC sebagai anak usaha BUMN juga dinilai tidak bisa lepas dari sentimen perusahaan negara. Saat ini, eksposur BUMN belum menjadi katalis positif bagi saham BUMN. Banyak emiten-emiten BUMN dengan valuasi murah yang menunjukan penilaian kurang baik oleh pasar. Marolop menambahkan, tahun ini ADCP menargetkan marketing sales tumbuh double digit dan target tersebut didukung perbaikan permintaan di sektor properti yang sudah terlihat dan terus berlanjut.
Termasuk didalamnya insentif, stimulus dan target realisasi LRT Jabodebek yang beroperasi di Agustus 2022 akan menjadi katalis positif bagi ADCP. Jika melihat pertumbuhan marketing sales 2021 dan 2022 masing-masing sebesar 46% dan 103%, laba bersih ADCP tahun ini diperkirakan bisa tumbuh di atas 30% dibandingkan target pertumbuhan 2021 sebesar 15%.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

