Jumat, 15 Mei 2026

GoTo Blak-blakan Faktor Risiko, Selalu Rugi dan Tak akan Bukukan Laba?

Penulis : Thresa Sandra Desfika
16 Mar 2022 | 09:41 WIB
BAGIKAN
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Foto: Ist
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Foto: Ist

JAKARTA, investor.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) bersiap melakukan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Perseroan berencana melepas 52 miliar saham dengan harga penawaran antara Rp 316-346 per saham sehingga dana yang dibidik bisa mencapai Rp 17,99 triliun.

Perseroan pun telah menerbitkan prospektusnya dan di dalamnya dijelaskan pula mengenai faktor risiko investasi pada saham GoTo. Prospektus GoTo menyebutkan bahwa investasi pada saham emiten memiliki risiko sehingga sebelum calon investor memutuskan untuk membeli saham yang ditawarkan, calon investor harus dengan secara hati-hati mempertimbangkan seluruh informasi yang tercantum dalam prospektus ini, termasuk risiko bisnis.

Terdapat risiko utama yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha GoTo. Di mana, riwayat kegiatan operasi perusahaan yang cukup singkat dan bisnis perusahaan yang terus berkembang mengakibatkan sulitnya mengevaluasi prospek usaha, risiko, serta tantangan yang mungkin dihadapi perusahaan. Perusahaan tidak dapat menjamin bahwa laju pertumbuhan dan kinerja keuangan historis perusahaan akan dapat terus dipertahankan.

ADVERTISEMENT

Selain itu, terdapat risiko usaha yang bersifat material baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat memengaruhi hasil usaha dan kondisi keuangan perusahaan. Salah satu risiko usaha itu ialah terkait kerugian.

Dalam prospektusnya, GoTo mengingatkan bahwa perusahaan telah mencatatkan rugi bersih sejak didirikan dan perusahaan mungkin tidak dapat mencapai profitabilitas. Perusahaan membukukan rugi bersih sebesar Rp 11,75 triliun, Rp 24,082 triliun, Rp 16,735 triliun masing-masing pada tahun 2018, 2019, dan 2020. Serta, rugi sebesar Rp 8,169 triliun untuk periode tujuh bulan yang berakhir pada tanggal 31 Juli 2021.

Perusahaan mencatatkan akumulasi rugi bersih sebesar Rp 20,438 triliun, Rp 43,19 triliun, Rp 57,74 triliun pada tanggal 31 Desember 2018, 2019, dan 2020. Serta, Rp 65,287 triliun pada tanggal 31 Juli 2021.

Rugi bersih perusahaan terutama disebabkan oleh, antara lain pengembangan kegiatan operasional; penawaran produk, basis, dan jejaring konsumen; biaya penjualan dan pemasaran untuk meningkatkan basis konsumen; biaya penyusutan dan amortisasi sehubungan dengan perangkat lunak; biaya pengembangan teknologi dan infrastruktur; dan beban gaji dan imbalan karyawan untuk merekrut talenta industri yang berkualitas.

“Perusahaan tidak dapat menjamin bahwa perusahaan akan dapat membukukan laba bersih di masa mendatang,” terang prospektus GoTo dikutip Rabu (16/3/2022).

Prospektus tersebut melanjutkan bahwa keberhasilan perusahaan teknologi lain tidak dapat digunakan sebagai indikasi kinerja keuangan perusahaan di masa mendatang. Kemampuan perusahaan untuk mencapai profitabilitas sebagian besar bergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengembangkan dan memasarkan bisnisnya secara efisien serta mengoptimalkan sumber dayanya.

Sejalan dengan pertumbuhan skala bisnis perusahaan, profitabilitas perusahaan juga bergantung pada bauran produk, pengembangan marketplace online, dan penawaran layanan yang memberikan nilai tambah (value-added services) dengan marjin yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, perusahaan bermaksud untuk terus berinvestasi di masa mendatang seiring dengan upaya perusahaan untuk mengembangkan dan meluncurkan penawaran dan fitur platform yang baru, memperluas bisnis baik di pasar saat ini maupun pasar baru, meningkatkan upaya penjualan dan pemasaran, serta terus berinvestasi di platformnya.

Upaya-upaya ini mungkin membutuhkan biaya lebih besar dan waktu lebih lama dari yang diharapkan perusahaan dan hasilnya tidak pasti.

“Perusahaan tidak menjamin bahwa perusahaan akan sepenuhnya mendapatkan kembali biaya investasi, dan investasi yang telah dilakukan akan menghasilkan peningkatan pendapatan atau pertumbuhan bisnis dan profitabilitas di masa mendatang,” lengkap prospektus tersebut.

Profitabilitas

Sementara itu, CEO GoTo Andre Sulistyo menekankan bahwa perusahaan akan selalu berupaya meraih profitabilitas. Bahkan, sudah memetakan strategi.

“Kami sudah ada memetakan bagaimana kami bisa mendapatkan profitabilitas. Saya bagi menjadi beberapa kategori dan kriteria,” ujar Andre dalam public expose GoTo, Selasa (15/3/2022).

Pertama, kata dia, dengan adanya sinergi yang sangat kuat dan unik di ekosistem GoTo sehingga terjadi akselerasi dari transaksi para penggunanya.

“Ini meningkat sangat cepat sekali akibat dari sinergi yang kami lakukan setelah dari merger Gojek dan Tokopedia. Dan, dengan sendirinya begitu kami bisa menambahkan penguna baru, growth dari gross transaction (GTV) kami akan berakselerasi dengan seiring bertambahnya user dan mereka bertransaksi lebih sering dan lebih banyak,” ungkap Andre.

Kedua, lanjut dia, komisi yang didapatkan GoTo dari transaksi masih dikategorikan lebih rendah dibandingkan dengan pemain-pemain serupa di dunia.

“Dengan seiring inovasi produk kami semakin bagus, market penetrasinya juga semakin matang dan kesempatan meningkatkan komisi. Ini bukan hanya dengan meningkatkan angkanya tapi dengan meningkatkan produk-produk baru. Dengan seiring peningkatan komisi tersebut otomatis pendapatan bruto kami akan naik lebih cepat daripada kecepatan peningkatan GTV,” papar dia.

Selain itu, dari sisi biaya. Dengan adanya sinergi, maka lewat satu marketing saja bisa meningkatkan transaksi untuk beberapa produk.

“Kami promosikan di Tokopedia biasanya logistik diantar Gosend pembiayaannya Gopay dan merchant tersebut pakai Merchant Solution yang ada di GTV. Jadi satu kali spending 3-4 produk dapat,” imbuh Andre.

Lalu, biaya logistik. Gojek sendiri adalah pionir dari perusahaan on demand di mana mitra driver-nya lebih banyak menggunakan sepeda motor. Dengan begitu kecepatan dan kedinamisan dari para mitra driver bisa mendukung berbagai jenis transaksi, baik itu mengantar orang, makanan, dan grocery. Dengan begitu, lanjut Andre, terjadi lebih banyak produktivitas sehingga membuat efisiensi biaya dengan sendirinya tercapai.

“Mungkin dari semua itu imbasnya perluasan daripada marjin. Dan, dengan adanya efisiensi biaya di fix cost, kami rasanya akhirannya percepatan antara revenue growth itu lebih cepat daripada peningkatan cost sendiri, dan dengan sendirinya akan meningkatkan profitabilitas,” tutup Andre.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia