Dampak Konflik Rusia-Ukraina bagi Pasar Indonesia
Jakarta-Berbeda dengan negara maju yang mengalami normalisasi, Indonesia justru diuntungkan oleh momentum pemulihan ekonomi. Pemulihan ini seiring dengan mobilitas masyarakat dan meningkatnya vaksinasi. Seperti disampaikan Senior Portfolio Manager, Equity, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Caroline Rusli, pemulihan ekonomi global dan gangguan rantai pasokan menjadi katalis bagi harga komoditas utama Indonesia, seperti; batu bara, kelapa sawit, dan nikel. Komoditas tersebut diketahui memberikan kontribusi bagi devisa negara dan membantu stabilitas nilai tukar rupiah.
“Posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas juga memberikan efek lindung nilai dari kenaikan harga komoditas karena konflik Rusia–Ukraina. Hal ini juga memberikan trickle-down effect terhadap perekonomian secara keseluruhan lewat meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang bekerja dan berhubungan dengan sektor yang bersangkutan,” paparnya dalam keterangan tertulis.
Sementara dari sisi pergerakan rupiah sendiri, ia mengatakan sejauh ini rupiah menunjukkan kinerja yang resilien. Menurutnya, kali ini rentang pergerakan rupiah sudah jauh lebih baik (sempit) dibandingkan dengan kondisi normal beberapa tahun yang lalu. Kondisi tersebut, lanjutnya, ditopang oleh fundamental makro ekonomi dan dinamika pasar finansial domestik yang suportif.
“Seperti, kinerja ekspor yang solid didukung harga komoditas yang tinggi, peranan investor domestik yang meningkat di pasar obligasi dan saham, skema burden sharing Bank Indonesia menopang stabilitas pasar, dan indikator makroekonomi dan eksternal yang solid (cadangan devisa tinggi, surplus pada transaksi berjalan, CDS stabil),” sebut dia. Dalam kondisi yang disebutnya penuh dengan berbagai kejutan seperti saat ini, menurut dia, pengelolaan portofolio diarahkan untuk menangkap peluang investasi jangka menengah ke panjang.
“Kami memiliki pandangan yang positif terhadap beberapa komoditas yang mempunyai potensi pertumbuhan struktural yang baik. Seperti misalnya nikel yang memiliki katalis struktural positif untuk produksi baterai mobil listrik dan dukungan program pemerintah untuk membangun value chain dari baterai mobil listrik di Indonesia. Di samping itu batu bara juga terlihat cukup solid sebagai alternatif gas, terutama dengan adanya konflik Rusia–Ukraina yang menyebabkan kenaikan harga gas untuk beberapa negara Eropa,” tulisnya.
Untuk baru bara sendiri, diketahui Rusia merupakan pemasok batu bara ketiga dunia dengan 18% dari total perdagangan batu bara. Sehingga, ketegangan Rusia-Ukraina menyebabkan kenaikan permintaan batu bara dari produsen lain, termasuk Indonesia. Sementara beberapa sektor yang input biayanya banyak tergantung pada harga komoditas, seperti semen dan barang konsumsi akan mengalami tekanan profit margin.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

