Jumat, 15 Mei 2026

Meneropong Kinerja Kuat Adhi Karya (ADHI) usai Pandemi

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
25 Mar 2022 | 12:26 WIB
BAGIKAN
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

JAKARTA, investor.id - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) diproyeksikan menunjukkan kinerja kuat di tahun ini, setelah pandemi Covid-19 memukul sektor konstruksi selama dua tahun terakhir. Kinerja Adhi Karya di tahun ini akan didukung kas yang kuat seiring rencana rights issue perseroan pada kuartal II-2022.

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan resesi pada 2020, memberi dampak yang cukup memberatkan bagi sektor konstruksi. Baik BUMN maupun swasta sama-sama tak kebal resesi. Hal ini lantaran adanya penundaan aneka proyek yang menyebabkan turunnya pendapatan.

Kondisi pemberi kerja turut mengalami kesulitan, karena terdampak protokol kesehatan dan pembatasan anggaran selama Covid-19 merajalela. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, sepanjang 2020 pemerintah telah mengetatkan anggaran infrastruktur hingga hampir 30% menjadi Rp 349 triliun.

ADVERTISEMENT

Padahal, semula anggaran yang sudah dicanangkan mencapai Rp 423 triliun. Sebagai gantinya, dana infrastruktur dari APBN lebih banyak dialokasikan untuk program penanggulangan wabah Covid-19. Kondisi ini jelas menyulitkan bagi emiten-emiten BUMN karya yang banyak menggarap proyek pemerintah.

Meskipun demikian, tahun ini emiten sektor konstruksi diprediksi bangkit seiring meredanya pandemi. Dalam risetnya, RHB Sekuritas memaparkan sejumlah katalis positif pertumbuhan Adhi Karya.

“Adhi Karya akan memiliki posisi neraca keuangan yang lebih kuat berkat aksi rights issue dengan target dana segar hingga Rp 4 triliun, serta didukung pembayaran beberapa proyek seperti Light Rail Transit (LRT) dan Tol Sigli-Banda Aceh dengan pembayaran berkisar Rp 5-6 triliun,” ujar analis RHB Sekuritas Ryan Santoso dalam risetnya di Jakarta, baru-baru ini.

Ryan menjelaskan, katalis positif tersebut sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan kontrak baru, termasuk potensi pada proyek Ibukota Negara (IKN).

“Dengan demikian, RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ADHI dengan target harga Rp 1.170 per saham dan potensi return 48%,” tegas dia.

RHB Sekuritas menilai, seharusnya perseroan mampu secara agresif mengejar proyek-proyek investasi dengan target pertumbuhan kontrak baru meningkat 15-20% pada tahun 2022.

Meneropong Kinerja Kuat Adhi Karya (ADHI) usai Pandemi
Harga saham ADHI dalam satu dekade terakhir

Pada kuartal IV-2021, ADHI membukukan peningkatan pendapatan yang signifikan dengan naik 43,8% secara kuartalan, dan 76,4% secara tahunan menjadi Rp 4,2 triliun.

“Capaian ini berhasil memperbesar pendapatan selama 2021 yang berjumlah Rp 11,5 triliun, naik 6,5% setelah sebelumnya selama periode 9 bulan pertama 2021 Adhi Karya mengalami pertumbuhan yang negatif,” ujar Ryan.

Setelah sebelumnya pada tiga kuartal mengalami kontraksi margin, GPM dari ADHI akhirnya membaik pada kuartal IV-2021 pada level 16,1%. Pencapaian dari ADHI juga mendekati 95%-100% dari estimasi.

Masih pada periode yang sama, Earning Before Interest Tax and Amortization (EBITDA) ADHI tercatat sebesar Rp 745 miliar, meningkat 40,3% dibanding tahun lalu atau 110% dan 111% dari konsensus RHB. Hal ini dapat dicapai ADHI berkat kontribusi Joint Venture (JV) sebesar Rp 362 miliar atau naik 130,8% dan efisiensi operasi menjadi Rp 635 miliar.

Target harga yang direkomendasikan oleh RHB telah dihitung dengan diskon dari penerapan ESG sebanyak 6%. Risiko utama dari rekomendasi RHB yakni harga komoditas yang tinggi yang mungkin menyebabkan biaya bahan yang lebih tinggi.

Sementara itu, hingga Desember 2021, realisasi pembayaran atas pembangunan proyek LRT Jabodebek senilai Rp 15,1 triliun dan realisasi pembayaran atas pembangunan proyek Jalan Tol Sigli-Banda Aceh senilai Rp 4,6 triliun, turut menopang kinerja ADHI .

Menurut Corporate Secretary ADHI Farid Budiyanto, pembayaran untuk proyek besar ini, akan meningkatkan likuiditas ADHI yang dapat mendukung percepatan penyelesaian proyekproyek perseroan, khususnya proyek strategis nasional.

“Proyek pembangunan LRT Jabodebek diharapkan menjadi salah satu alternatif pengurai kemacetan di ibu kota dan kota penyangganya. Sedangkan proyek pembangunan Jalan Tol Sigli-Banda Aceh diharapkan dapat menjalin konektivitas di Pulau Sumatera wilayah utara,” jelas dia.

Meneropong Kinerja Kuat Adhi Karya (ADHI) usai Pandemi
Salah satu proyek konstruksi PT Adhi Karya Tbk (ADHI). (Foto: Perseroan)

Sementara itu, potensi kontrak baru dari proyek IKN diperkuat dengan menunjukkan Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe sebagai Kepala dan Wakil Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, makin membawa titik terang pada pembangunan megaproyek IKN. Emiten BUMN Karya, yakni PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang digadang-gadang bakal menggarap proyek bernilai ratusan triliun rupiah tersebut, kompak menyambut positif.

Di sisi lain, anak usaha Adhi Karya yakni PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) membukukan penurunan pendapatan menjadi Rp 563,68 miliar pada 2021, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 977,22 miliar.

Meski demikian, anak usaha PT Adhi Karya Tbk (ADHI) ini justru berhasil mencatatkan peningkatan laba sebelum beban keuangan dari Rp 140,2 miliar menjadi Rp 143,43 miliar. Laba sebelum pajak turun dari Rp 130,63 miliar menjadi Rp 133,04 miliar.

Manajemen ADCP dalam laporan kinerja keuangan perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), menyatakan, meski pendapatan turun dalam, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya turun tipis dari Rp 133,25 miliar menjadi Rp 130 miliar.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael menurunkan rekomendasi saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menjadi hold dari sebelumnya trading buy tanpa mengubah target harga Rp 1.250. Rekomendasi itu diberikan setelah terjadi kenaikan harga saham ADHI baru-baru ini dan mencapai target harga yang ditetapkan oleh Mirae Asset Sekuritas.

Melihat pendapatan dan laba bersih ADHI yang tak mencapai target yang diperkirakan pada kuartal pertama tahun ini, Joshua pun masih mempertahankan target-target keuangan untuk Adhi Karya.

“Selama lima tahun terakhir, pendapatan kuartalan ADHI dan laba bersih selalu meningkat pada kuartal IV. Pendapatan kuartal keempat rata-rata bergerak pada kisaran 35–40% dari total pendapatan dan laba bersih rata-rata 50- 60% dari total laba,” ujar Joshua.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 25 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 36 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 40 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia