Jumat, 15 Mei 2026

Alasan di Balik Rekomendasi ‘Mulai Beli’ Saham GOTO

Penulis : Ghafur Fadillah
26 Apr 2022 | 15:53 WIB
BAGIKAN
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Foto: Ist
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Foto: Ist

JAKARTA, investor.id – Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) diuntungkan dengan ekosistem digital raksasa yang telah terbentuk. Dengan skala bisnis yang luas dan kuat, hal itu akan menopang akselerasi pertumbuhan kinerja GoTo ke depannya.

Saat ini, ekosistem GoTo menampung sebanyak 55 juta pengguna yang bertransaksi tahunan, 14 juta pedagang, dan 2,5 juta mitra pengemudi. Start-up Indonesia berstatus decacorn yang melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada Maret 2022 ini diproyeksikan mampu berkontribusi hingga 30% terhadap total nilai transaksi bruto Indonesia pada 2025.

Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis, peluang itu datang sejalan dengan dua ekosistem dari kedua perusahaan yang sangat besar, mulai dari jaringan platform yang luas hingga sistem pembayaran digital bernama Gopay yang menjadi pilar utama dalam menangkap potensi bisnis dari pasar fintech. “Aksi merger juga akan menggaet para pelanggan dari Tokopedia yang sebelumnya menggunakan sistem pembayaran melalui Grab-OVO,” jelas dia dalam risetnya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut Niko mengungkapkan, potensi peningkatan kontribusi nilai transaksi bruto hingga 30% didukung dengan kenaikan penggunaan aplikasi Gojek pasca-pandemi. Selain itu, kelemahan penetrasi pasar fintech yang dialami oleh Gojek dapat diatasi dengan jangkauan konsumen dari Tokopedia.

Dengan demikian, Gojek dapat memanfaatkan peluang ini dan meningkatkan transaksi sektor pengantaran makanan dan cloud kitchens. “Jangkauan dari Tokopedia sudah hadir di 17 ribu pulau dan akan menjadi katalis positif bagi bisnis logistik Gojek,” ujar dia.

Selain dari pertumbuhan nilai transaksi bruto, menurut Niko, profitabilitas GoTo akan berasal dari potensi biaya promosi yang lebih rendah karena program promosi dapat dilakukan secara bersama atau kesatuan pada tiga segmen bisnisnya, yakni platform pembayaran, e-commerce, dan pengiriman. Gojek diketahui memiliki pangsa pasar lebih dari 50% yang diharapkan dapat menghasilkan Earning Before Interest and Tax (EBIT) yang positif pada 2023.

“Dengan basis pengguna yang solid, ditambah pilar e-commerce dan fintech itu nanti membuat pangsa pasar dari GoTo semakin kuat,” kata dia.

GoTo juga terikat dengan berbagai pemegang saham dari perusahaan teknologi kelas kakap seperti Alibaba, Alfabet, Tencent, dan Microsoft. Menurut Niko, hal ini memastikan GoTo akan tetap menjadi yang terdepan dalam tren teknologi, termasuk adopsi teknologi blockchain, metaverse, dan mata uang digital. Platform GoTo yang sangat umum, luas, dan kolaboratif dapat berkembang menjadi aliran pendapatan baru yang dapat dicapai dengan menggunakan infrastruktur yang telah tersedia dan mempercepat jalan menuju profitabilitas.

Dalam memberikan valuasi, Niko menggunakan kelipatan P/GMV untuk mengevaluasi GoTo sebagai perusahaan yang berfokus untuk menghasilkan GTV dari tiga pilar bisnis terpisah. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan kelipatan P/GMV sebesar 0,8 kali untuk segmen bisnis sesuai permintaan dan e-commerce untuk GMV 2021-25, sementara 0,30 kali untuk fintech GTV.

“Dengan demikian, kami merekomendasikan initiate buy dengan target harga Rp 400 dari sebelumnya Rp 338,” ungkap dia.

Tarik Investor

Sementara itu, pada riset yang ditulis oleh MNC Sekuritas, GoTo dinilai menjadi perusahaan start-up paling berharga dan ekosistem digital terbesar di Indonesia. Ekosistem GoTo terdiri atas layanan transportasi sesuai permintaan, e-commerce, pengiriman makanan dan bahan makanan, logistik dan pemenuhan, serta layanan keuangan dan pembayaran melalui Gojek, Tokopedia, dan GoTo Financial platform.

Selanjutnya, jaringan GoTo juga akan mencakup GoTransit, sepeda Electric Vehicle (EV), GoShuttle, GoCorp, Platform AdTech, dan alat yang lebih tangguh, sehingga membuat bisnis GoTo menarik bagi investor.

Dalam riset bersama, analis MNC Sekuritas Tirta Widi, Andrew Sebastian, dan Herditya Wicaksana mengungkapkan, fokus bisnis GoTo pada layanan permintaan, e-commerce dan fintech membuka kemungkinan monetisasi yang besar. Setelah konsolidasi Tokopedia sebagai cabang e-commerce, GoTo GTV terbukti mampu bertumbuh 34,9% pada tahun 2021 menjadi Rp 324,9 triliun.

Segmen e-commerce sebagai kontributor terbesar menyumbang 51,6% dari total GTV atau naik 48,7% diikuti oleh segmen fintech berkontribusi 43,7% total GTV dan juga mencatat pertumbuhan 76,6%. Kemudian, pendapatan kotor GoTo meningkat +38,5% menjadi Rp 11,8 triliun di September 2021 didukung oleh transaksi e-commerce yang jauh lebih tinggi.

“Integrasi ekosistem dan monetisasi serta efisiensi operasional adalah strategi utama untuk membangun profitabilitas. Inovasi dan memperkuat posisi di pasar karena pesaing menjadi lebih agresif dalam membangun ekosistem digital mereka,” tulis MNC Sekuritas.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 26 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 29 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia