Jumat, 15 Mei 2026

Hingga April 2022, Kontrak Baru PP Presisi (PPRE) Capai Rp 1,5 Triliun

Penulis : Muhammad Ghafur Fadilllah
18 Mei 2022 | 16:31 WIB
BAGIKAN
PP Presisi. Foto: IST
PP Presisi. Foto: IST

JAKARTA, Investor.id -  PT PP Presisi Tbk (PPRE) berhasil mencatatkan kontrak baru senilai Rp 1,5 triliun hingga April 2022 atau ada penambahan Rp 500 miliar pada bulan lalu. Total kontrak ini masih didominasi dari pengerjaan civil work disusul mining services. Sedangkan tambahan kontrak baru pada kuartal II-2022 ditargetkan mencapai Rp 700-900 miliar.

Direktur Utama PP Presisi Rully Noviandar menjelaskan, secara rinci perseroan telah mengantongi kontrak baru dari beberapa pekerjaan, yakni proyek Addendum Hauling Services Weda Bay Nickel (WBN), Pembangunan Jalan Empu Nala Mojokerto (PUPR), Revitalisasi Bandara Halim (WIKA), Pembangunan Jalur Kereta Api Elevated Sumut Binjai (Kemenhub), Pembangunan Cimanggis Warehouse (TOTAL), Pekerjaan Timbunan Pasir Semarang Demak Seksi II (PTPP) dan Pembangunan Jalan Tol Serang Panimbang (SRBGC).

“Peningkatan perolehan kontrak baru tersebut meningkatkan optimisme kami dalam meningkatkan kinerja Perseroan secara keseluruhan. Adanya perolehan kontrak baru yang cukup besar tentunya memberikan kepastian dan jaminan bagi kami untuk terus berproduksi. Hingga April ini, dua lini bisnis utama kami telah mendominasi perolehan pasar yakni 58,57% dari civil work dan 35,13% dari mining services,” jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (18/5).

ADVERTISEMENT

Dia juga menambahkan, penambahan kontrak baru pada civil work saat ini mulai banyak perseroan peroleh dari pasar eksternal sebagai kontraktor utama antara lain seperti pada proyek pembangunan Jalan Empu Nala, Tol Serang Panimbang dan KA Sumut Binjai. Sedangkan perolehan kontrak baru dari jasa pertambangan diperoleh dari peningkatan kepercayaan pemberi kerja terhadap kinerja PPRE, yaitu dari proyek jasa pengangkutan (hauling services) Proyek Weda Bay Nickel.

Lebih lanjut dari segmen pemberi kerja hingga April 2022, 92,80% segmen pasar perseroan didominasi oleh pasa non-group dan sisanya yakni sebesar 7,20% berasal dari grup (PTPP). Hal ini tentunya diharapkan akan semakin meningkatkan positioning perseroan dipasar eksternal sekaligus menunjukkan kapabilitas untuk bermain sebagai main kontraktor terutama pada pangsa pasar konstruksi infrastruktur.

Sedangkan kuartal II- 2022, perseroan menargetkan tambahan kontrak baru sebesar Rp 700-900 miliar dengan fokus segmen antara lain pada civil work infrastruktur, mining development, serta beberapa dari proyek structurework yang sedang kami garap. Kami harapkan, perolehan kontrak tersebut dapat menjadi produksi secara optimal dan berkontribusi dalam pencapaian laba perseroan.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 26 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 30 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia