Jumat, 15 Mei 2026

Kargo Kendaraan Berat Bikin Ciamik Kinerja IPCC Kuartal I-2022

Penulis : Indah Handayani
19 Mei 2022 | 10:15 WIB
BAGIKAN
Kendaraan di IPCC. Foto: IPCC
Kendaraan di IPCC. Foto: IPCC

JAKARTA, investor.id - Meningkatnya pertumbuhan di sektor komoditas dan pulihnya sejumlah sektor industri serta mulai berkurangnya dampak negatif dari Pandemi Covid-19 dalam tiga bulan terakhir berimbas pada permintaan akan Kendaraan Berat. Kondisi ini tentunya turut berimbas pada kegiatan bongkar muat Kendaraan Berat di Terminal PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC).

Dalam keterangan pers yang diterima Kamis (19/5/2022), pihak manajemen menyebut sepanjang tiga bulan pertama ini, jumlah Kendaraan Berat (gabungan antara Alat Berat dan Truck/Bus) di Terminal Internasional telah dilayani bongkar muat sebanyak 4.833 unit atau naik 70,24% dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebanyak 2.839 unit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.130 unit merupakan Kendaraan Berat impor yang naik 243,59% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar 1.202 unit. Sementara sisanya, merupakan Kendaraan Berat ekspor yang berbanding terbalik dimana turun 57,06% dari 1.637 unit di tahun lalu menjadi 703 unit.

Tak ketinggalan, pada Terminal Domestik turut mencatatkan kinerja yang tidak kalah menariknya. Pada Terminal ini, secara total telah dilayani sebanyak 20.314 unit atau naik 299,72% dibandingkan periode 3 bulan pertama di tahun lalu sebesar 5.082 unit. Adapun torehan kinerja yang mengesankan tersebut, tidak hanya dihasilkan dari Terminal Domestik IPCC di Tanjung Priok saja. Tapi juga turut dihasilkan dari sejumlah Terminal Satelit, seperti Terminal Panjang, Lampung; Terminal Dwikora, Pontianak; dan Terminal Roro Belawan, Medan. Kondisi ini tentunya menambah jumlah bongkar muat Kendaraan Berat yang dilayani oleh IPCC.

ADVERTISEMENT

Selain dari Kendaraan Berat, kontribusi pundi-pundi pendapatan kargo IPCC juga berasal dari segmen kargo CBU yang sepanjang tiga bulan pertama di tahun ini dilayani sejumlah 77.139 unit di Terminal Internasional dan 38.554 unit di Terminal Domestik. Lalu, dari segmen kargo General Cargo yang dilayani sebanyak 21.115 unit di Terminal Internasional dan 3.945 unit di Terminal Domestik. Tak ketinggalan, dari segmen Motor di Terminal Domestik sebanyak 55.525 unit.

Dengan perolehan bongkar muat tersebut membuat kinerja keuangan IPCC turut terdongkrak. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan dalam Analyst Meeting dan Public Expose sebelumnya dimana Manajemen baru terus mengupayakan untuk meningkatkan pelayanan di Terminal, baik di Terminal Internasional, Domestik, maupun Satelit dan juga optimalisasi bisnis Perseroan dengan sejumlah pihak, baik Automaker, Shipping Line, dan lainnya sehingga menjadikan Terminal IPCC sebagai pilihan untuk dilakukannya layanan bongkar muat kendaraan.

“Tidak lupa, dengan adanya merjer Pelindo juga turut dimanfaatkan untuk masuk ke sejumlah Pelabuhan di berbagai wilayah sehingga nantinya tidak hanya mengandalkan Tanjung Priok. Tapi juga ada kontribusi dari daerah lain sehingga makin memberikan nilai tambah,” tulis manajemen.

Dari sisi Pendapatan Operasional, IPCC mampu membukukan peningkatan sebesar 25,12% sepanjang triwulan pertama tahun ini menjadi Rp150,05 miliar dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp119,92 miliar. Adanya pengurangan pada Beban Pokok Pendapatan sebanyak 6,81% menjadi Rp71,78 miliar dari sebelumnya Rp77,03 miliar membantu IPCC untuk meningkatkan perolehan Laba Kotor menjadi Rp78,26 miliar atau naik 82,45%.

Bahkan, pengurangan juga terjadi pada Beban Umum dan Administrasi sebesar 8,11% dari Rp27,43 miliar di periode triwulan pertama tahun lalu menjadi Rp25,21 di triwulan pertama tahun ini. Dampaknya, membuat Laba Usaha IPCC lompat 243,18% menjadi Rp53,05 miliar di kuartal pertama tahun ini dibandingkan capaian tahun lalu sebesar Rp15,46 miliar. Begitupun dengan EBITDA yang terangkat 76,55% menjadi Rp82,43 miliar dibandingkan tahun lalu sebesar Rp21,20 miliar. Perseroan tidak banyak melakukan efisiensi secara massif karena dapat mengganggu jalannya kegiatan operasional. Namun, lebih mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk men-generate income lebih tinggi.

Meski beban keuangan meningkat dengan adanya dampak dari naiknya Bunga Aset Sewaan akibat penerapan PSAK 73 pada sejumlah Aset yang tercatat sebagai Sewa Aset namun, tidak menyurutkan IPCC untuk menghasilkan kenaikan Laba Tahun Berjalan. Adapun akun ini tercatat naik sebanyak 97,10% menjadi Rp35,26 miliar di kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp17,89 miliar.

Dengan kenaikan tersebut, tentunya juga berimbas pada kenaikan Laba per Saham / Earning per Share (EPS) menjadi Rp35,26. Sejumlah rasio keuangan pun kian meningkat antara lain EBITDA Margin menjadi 54,94% dari sebelumnya 38,93%; Net Profit Margin sebesar 23,50% dari sebelumnya 14,92%; Return on Asset sebesar 1,75% dari sebelumnya 0,95%; dan Return on Equity sebesar 3,21% dari sebelumnya 1,75%. Begitupun dengan tingkat solvabilitas yang terjaga dengan baik dimana Debt to Equity sebesar 83,51% dari sebelumnya 83,79%.

Adanya pencapaian ini dharapkan dapat memberikan nilai tambah tidak hanya bagi IPCC namun, juga bagi para pemegang sahamnya. Selain itu, juga menjadi penyemangat bagi IPCC untuk tetap dapat mempertahankan pencapaian kinerja yang ada serta berupaya untuk lebih meningkatkan lagi kinerja terbaiknya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia