Rusia Belum Setor Denda Telat Bayar Utang US$ 1,9 Juta
PARIS, investor.id – Pemerintah Rusia telah gagal membayar US$ 1,9 juta bunga yang masih harus dibayar pada obligasi negara, kata panel investor. Rusia belum menyetor denda telat bayar tersebut dan kini menghadapi risiko gagal bayar pertama dalam beberapa dekade terakhir.
Komite Penentuan Derivatif Kredit (CDDC) mengatakan di situsnya bahwa mereka memilih “ya” untuk menjawab pertanyaan dari pemegang obligasi mengenai apakah “Kegagalan Membayar Event Kredit” telah terjadi.
Sanksi Barat yang menghukum Rusia sebagian besar telah memutuskan negara itu dari sistem keuangan internasional, sehingga menyulitkan pemerintah Rusia untuk membayar utangnya.
Negara ini terakhir kali gagal membayar utang mata uang asingnya pada 1918, ketika pemimpin revolusi Bolshevik Vladimir Lenin menolak mengakui kewajiban rezim tsar yang digulingkan. Ia gagal membayar utang berdenominasi rubel pada 1998 di tengah krisis keuangan yang lebih luas.
Tapi kali ini, sanksi akan berada di balik kegagalan negara itu untuk membayar kreditur.
Keputusan CDDC terkait dengan obligasi yang jatuh tempo pada 4 April, tetapi pembayaran pokok dan bunga tidak dilakukan sampai 2 Mei 2022, mengakibatkan utang tambahan sebesar US$ 1,9 juta.
Panel tersebut dapat memutuskan apakah akan mengaktifkan Credit Default Swap atau tidak, yang pada dasarnya merupakan polis asuransi karena tidak membayar utang. Tetapi hingga Rabu (1/6) belum ada indikasi apa yang akan terjadi, meskipun panel itu akan bertemu untuk membahas masalah ini pada Senin (6/6).
Risiko Awal
“(Sejauh ini Rusia) telah membayar jumlah yang harus dibayar pada tanggal jatuh tempo yang disepakati. Tetapi, sengaja atau tidak, lupa menambahkan bunga yang belum dibayar,” ujar Eric Dor, direktur Studi Ekonomi di Sekolah Manajemen IESEG Prancis, kepada AFP pada Kamis (2/6).
Jumlahnya kecil dibandingkan pembayaran utang lain yang dihadapi Rusia.
Sanksi telah memblokir kemampuan pemerintah Rusia untuk mengakses dana yang disimpan di bank-bank AS, yang bisa digunakan membayar kreditur asingnya.
Pekan lalu Departemen Keuangan AS mengakhiri pengecualian yang memungkinkan Rusia melakukan pembayaran dalam dolar yang ditahan di Rusia, setelah peristiwa kredit senilai US$ 1,9 juta ditinjau oleh CDDC.
Klausul jalan keluar ini memungkinkan bank-bank Amerika Serikat (AS) menerima dan memroses pembayaran kepada kreditur.
Langkah terbaru membatalkan outlet terakhir, yang memaksa pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin menguras cadangan perangnya untuk melakukan pembayaran.
Rusia menanggapi dengan mengatakan bahwa mereka akan mulai membayar utang luar negerinya dengan mata uang rubel, yang nantinya dapat dikonversi ke mata uang asli melalui lembaga keuangan Rusia.
Tetapi banyak dari obligasi tidak mengizinkan pembayaran dalam rubel.
Tiga pembayaran bunga lainnya, dengan total kurang dari US$ 400 juta, akan jatuh tempo pada akhir Juni 2022, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Beberapa dari obligasi tersebut hanya dapat dibayar dalam dolar.
Secara total, pemerintah Rusia perlu melakukan 14 pembayaran obligasi pada akhir tahun ini.
Gagal bayar (default) biasanya berarti suatu negara kehilangan kemampuan untuk meminjam di pasar modal internasional selama beberapa tahun, sampai mendapatkan kembali kepercayaan investor.
Dalam hal ini, sanksi internasional yang berlaku mencegah Rusia untuk meminjam. Kepercayaan kreditur terhadap kemampuan Rusia untuk membayar saat ini tidak menjadi masalah, tetapi bisa jadi jika sanksi mendorong ekonomi negara itu ke dalam resesi yang parah.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler

