Jumat, 15 Mei 2026

Produksi Nikel Vale Indonesia (INCO) Semester I Merosot, Apa Sebab?

Penulis : Eva Fitriani
20 Jul 2022 | 13:03 WIB
BAGIKAN
Kegiatan tambang Vale Indonesia. Foto: IST
Kegiatan tambang Vale Indonesia. Foto: IST

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan penurunan produksi nikel hingga 12,73% pada semester I-2022 menjadi 26.394 ton dibanding periode sama tahun lalu 30.246 ton. Penurunan produksi tersebut akibat adanya proyek pembangunan kembali Tanur 4.

"Pelaksanaan pembangunan kembali Tanur 4 telah menyebabkan produksi lebih rendah," kata CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy dalam keterangan tertulis.

Febriany melanjutkan, volume produksi nikel pada kuartal II-2022 hanya sebesar 12.567 ton atau lebih rendah 9% dan 16% dibanding kuartal I-2022 dan kuartal II-2021. "Penggantian atap Tanur 1 dan shutdown pemeliharaan penuh pada awal Juni telah menyebabkan produksi pada kuartal II-2022 lebih rendah dibanding kuartal I-2022. Sedangkan pelaksanaan pembangunan kembali Tanur 4 telah menyebabkan produksi pada kuartal II-2022 lebih rendah dibanding kuartal II-2021," ungkap dia.

ADVERTISEMENT

Febriany menegaskan, pembangunan kembali Tanur 4 sudah selesai dan saat ini sudah mulai menyala. “Dengan senang hati saya informasikan bahwa Tanur 4 kami sudah mulai menyala sejak 18 Juni 2022. Pembangunan Tanur 4 dilakukan selama enam bulan atau 187 hari. Selama pembangunan berjalan, kami senang tidak ada cedera yang serius terhadap tim proyek. Konstruksi direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan untuk memenuhi target proyek dengan mengutamakan keselamatan sebagai nilai kami," ujar dia.

Tahun ini, Vale Indonesia menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 160-200 juta atau setara Rp 2,95 triliun. Capex tersebut akan digunakan untuk mendanai beberapa proyek besar emiten berkode saham INCO tersebut.

Sebelumnya, Febriany menjelaskan, pihaknya akan fokus pada penyelesaian tiga proyek yang sedang berjalan di Bahodopi, Pomala, dan Soroako, dengan cepat, aman, dan sesuai praktik berkelanjutan yang baik. “Jadi saya rasa fokus kami pada saat ini sudah cukup banyak. Kalau kami menambah proyek lagi, dikhawatirkan tidak akan fokus,” ujar dia.

Sementara itu, Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, hal yang sama juga menjadi alasan dari perseroan untuk tidak membagikan dividen pada tahun ini. Perseroan menyiapkan capex US$ 160 juta-200 juta yang sebagian besar akan digunakan untuk menjaga sustainable dari proyek Blok Sorowako dan juga untuk kebutuhan modal kerja di masa mendatang. “Selain itu, capex akan digunakan perseroan untuk mine development, membangun infrastruktur tambang, dan juga pembenahan alat-alat tambang,” ujar dia.

Bernardus Irmanto melanjutkan, perseroan selalu mengharapkan pendapatan bertumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya. Untuk itu, perseroan akan mengoptimalkan produksi yang sebelumnya sempat terhambat oleh pandemi, dan juga mengelola harga dengan prudent. “Dari tahun lalu hingga Mei-awal Juni, kami beroperasi hanya dengan 3 Furnish, jadi akan berpengaruh. Maka dari itu, pada paruh kedua kami akan mengoptimalkan produksi di Sorowako,” jelas dia.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan yang digelar Juni lalu, INCO juga memutuskan untuk melakukan perombakan direksi dan komisaris. Susunan direksi INCO yang terbaru adalah Presiden Direktur Febriany Eddy, Wakil Presiden Direktur Adriansyah Chaniago, Direktur Bernardus Irmanto, dan Direktur Vinicius Mendes Ferreira. Kemudian, komposisi dewan komisaris perseroan adalah Presiden Komisaris Deshnee Naidoo, Wakil Presiden Komisaris Muhammad Rachmat Kaimuddin, Komisaris Luiz Fernando Landeiro, Komisaris Fabio Ferraz, Komisaris Yusuke Niwa, Komisaris Dadan Kusdiana, Komisaris Alexandre Silva D'Ambrosio, Komisaris Independen Raden Sukhyar, Komisaris Independen Rudiantara, dan Komisaris Independen Dwia Aries Tina Pulubuhu.

Analis RHB Sekuritas Ryan Santoso mengatakan, Vale Indonesia menunjukkan outlook positif dalam jangka panjang, setelah terjadi tren kenaikan harga jual komoditas metal sepanjang tahun ini. Pemicu utamanya adalah peningkatan tensi geopolitik dunia yang berdampak terhadap penurunan pasokan.

Ryan mengungkapkan, berlanjutnya kenaikan harga jual metal, seperti nikel, memicu revisi naik target rata-rata harga jual komoditas tersebut menjadi US$ 19.700 per ton tahun ini. “Meski harga jual nikel berfluktuasi dalam beberapa bulan ini, fluktuasi tergolong masih berada di level tinggi dari realisasi tahun lalu. Revisi target harga nikel ini sejalan dengan pengumuman pemerintah Tiongkok bahwa pandemi Covid-19 sudah mulai kondusif di negaranya,” ujar dia.

Sedangkan pasokan nikel dunia, menurut dia, masih berada di level bawah berkisar 75 ribu ton, dibandingkan dengan rata-rata tahun lalu dalam kisaran 200-400 ribu ton.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia