Minyak Meredup Dibebani Ancaman Wabah Cacar Monyet di Tengah Lonjakan Covid-19
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, mengawali pembukaan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak tertekan dibebani oleh ancaman wabah cacar monyet di tengah kasus Covid yang kembali melonjak terutama di Tiongkok. Selain itu, sinyal tambahan pasokan dari Libya dalam waktu dekat turut membebani pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, kebangkitan kembali kasus Covid-19 di Tiongkok memicu kekhawatiran akan menurunnya permintaan minyak dari negara importir minyak terbesar pertama dunia itu. Kota pusat keuangan Tiongkok, Shanghai, berencana kembali lakukan pengujian massal mulai dari 26 hingga 28 Juli di sembilan distrik kota dan beberapa daerah kecil, karena kasus lokal sporadis terus muncul, ungkap otoritas kota pada hari Senin.
Baca Juga:
Minyak AS Jatuh di Bawah US$ 95Selain itu, kota pusat teknologi Tiongkok, Shenzhen, melaporkan 21 kasus infeksi lokal baru pada hari Minggu, naik dari 19 kasus pada hari sebelumnya, ungkap otoritas kesehatan kota pada hari Senin.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga minyak lebih lanjut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan situasi darurat kesehatan global atas wabah cacar monyet dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, ungkap Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada hari Sabtu. “Penyebaran wabah cacar monyet yang terjadi di tengah kenaikan kembali kasus Covid-19 kian menambah tekanan pada pemulihan ekonomi global,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (25/7/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, tekanan dari sisi pasokan datang dari pernyataan National Oil Corporation (NOC) pada hari Sabtu yang mengatakan perusahaan negara tersebut akan mengembalikan produksi minyak Libya menjadi 1,2 juta bph dalam dua minggu kedepan.
Sementara itu, Rusia menegaskan tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang memutuskan untuk mengenakan batasan harga pada minyak Rusia, ungkap Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina pada hari Jumat. Nabiullina juga menambahkan bahwa skema pembatasan harga itu hanya akan memacu harga minyak dunia melonjak lebih tinggi. Skema yang diusulkan oleh AS dan sekutunya tersebut rencananya akan dilakukan pada akhir tahun nanti, bersamaan dengan pemberlakuan paket sanksi keenam Uni Eropa terhadap Rusia.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 100 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 90 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






