Jumat, 15 Mei 2026

Kuatnya Produk Eksisting Tak Hentikan SIDO Luncurkan Produk Baru

Penulis : Fajar Widhiyanto
30 Jul 2022 | 15:05 WIB
BAGIKAN
Salah satu kegiatan di pabrik Sido Muncul (SIDO). Foto: b1Photo
Salah satu kegiatan di pabrik Sido Muncul (SIDO). Foto: b1Photo

JAKARTA, Investor.id - Publik pasti tak asing dengan tag line “Orang Pintar Minum Tolak Angin”, yang secara tak langsung menggiring publik untuk memilih produk herbal Tolak Angin untuk mengatasi gejala flu. Disampaikan Leonard, Direktur PT Sido Muncul Tbk, tag line marketing ini sejatinya tak bermaksud merendahkan produk yang masih dalam satu peer dengan Tolak Angin.

“Kalimat ini muncul karena keprihatinan kami dengan banyaknya produk herbal khususnya dari luar negeri yang beredar di pasaran, yang tidak memiliki kejelasan kandungan. Tag line ini mengajak konsumen untuk bijak dalam memilih produk,” ujar Leonard di depan para juri Best Emiten Award 2022 yang digelar oleh Majalah Investor.

Namun tag line tersebut kadung melekat di benak publik, dan kenyataannya Tolak Angin berhasil menduduki Top of Mind dalam pemasaran untuk kategori produk herbal cold symptom. Tak hanya Tolak Angin, dan Sido Muncul Susu Jahe, produk lainnya dari emiten berkode bursa SIDO yang mampu menduduki posisi top of Mind adalah Tolak Linu untuk kategori herbal analgesic. Sementara Vit C 1000 berada di posisi kelima Top of Mind untuk kategori vitamin untuk orang dewasa, dan Sido Muncul Kunyit Asam bertengger di posisi keempat untuk kategori minuman kesehatan herbal untuk wanita. Sedangkan Esemag yang belum lama dilansir perseroan, berhasil duduk di posisi kelima untuk kategori herbal digestion.

“Produk kami telah menjadi top of mind di Indonesia. Produk kami sudah dikonsumsi oleh setiap konsumen demografis dan terjangkau untuk setiap kelopok pendapatan,” kata Leonard.

ADVERTISEMENT

Perseroan tak begitu saja bisa berada di posisi seperti saat ini. Disampaikan Leonard, pencapaian tadi diperoleh lewat dijalankannya sejumlah inisiatif, dan disiplin dalam pelaksanaan strategi penguasaan pasar, dan bergerak cepat. “Semua ini kita capai karena kita sangat disiplin dalam strategi dan eksekusi kita sangat cepat,” ujarnya.

Sejumlah inisiatif yang dimaksud adalah fokus pada distribusi domestik dan pengembangan-pengembangan produk-produk baru, diikuti peningkatan skala bisnis internasional dengan tetap menjaga ketersediaan produk di pasar dengan minimize marketing post pending. Inisiatif selanjutnya adalah memperkuat kehadiran produk SIDO secara digital di e-commerce dan marketplace. “Keempat kita menjaga margin kita di 32%, dan kita tertinggi di consumer goods di Indonesia. Kita juga selalu meningkatkan proses bisnis. Kelima continues sustainability di ESG,” kata Leonard.

Dalam ajang penghargaan terhadap emiten berkinerja baik di Investor Awards 2022,  PT Sido Muncul Tbk diganjar penghargaan sebagai salah satu “Top Performing Listed Companies”, dari enam emiten yang layak mendapatkan penghargaan serupa.

Menurut Leonard, sejumlah inisiatif yang dilakukan selama 3 tahun terakhir ini telah membuahkan hasil berupa peningkatan pangsa pasar 5% di 2021 dibanding 2019. Perusahaan juga mencoba menciptakan barrier yang lebih tinggi dibanding ompetitor maupun para pemain baru dengan memanfaatkan Sido Muncul sebagai brand dengan portofolio produk yang kuat.

Perihal pangsa pasar, pada tahun lalu produk jamu dari perseroan berhasil menguasai 43%, sementara di beberapa produk perseroan bahkan bisa mendominasi pasar. Sebut saja produk Tolak Angin telah mampu menguasai pangsa 72% untuk produk cold herbal symptom. Begitu pula untuk produk SidoMuncul Tolak linu yang kini menjadi nomor satu di kategori analgesic herbal dengan pangsa pasar di atas 80%. Sementara untuk produk Kuku Bima kini juga telah menjadi market leader untuk kategori produk energy drink.

SIDO juga terus memperluas cakupan penjualannya dengan memperbanyak outlet pada periode 2019-2021. dalam periode tiga tahun terakhir, jumlah outlet SIDO bertumbuh sekitar 30% hingga mencapai 135 ribu outlet di akhir tahun 2021. Sementara untuk kanal distribusi lewat modern trade telah berhasil berkontribusi sebesar 13% pada toal penjualan, dibandingkan pada tahun 2019 yang masih sebesar 7%.

Kendati telah memiliki sejumlah produk yang menjadi top of mind publik, Leonard mengatakan perseroan tak ingin begitu saja bergantung pada penjualan produk laris tersebut. Perseroan pun terus mendifersifikasi produk dan terus berinovasi menciptakan dan meluncurkan produk baru.

Situasi pandemi yang belum mereda pada tahun lalu, membuat banyak perseroan memilih untuk menunggu hingga mobilitas publik dan perekonomian pulih. Namun buat SIDO, pandemi justru menjadi momentum untuk terus memperkenalkan produk kesehatan yang baru dari perusahaan. Setidaknya dalam dua tahun terakhir SIDO telah meluncurkan 30 produk baru.

“Ini kesempatan buat kita, karena produk kesehatan sekarang sangat diminati oleh masyarakat, dan kita tidak perlu terlalu banyak melakukan advertising karena kita sangat terbantu dengan sosial media dalam memperkenalkan produk baru,” ujar Leonard. Ia menyebut jajaran produk baru tersebut telah berkontribusi 4% dari total konsolidasi. Masih kecilnya porsi penjualan produk-produk baru menurut Leonard karena produk yang eksisting seperti kelompok Tolak Angin sudah kadung relatif kuat di pasar, sehingga produk baru masih 'kesulitan' untuk mengejar ketertinggalan.

Leonard juga menyampaikan optimismenya bahwa produk-produk SIDO tetap akan dibutuhkan oleh masyarakat kendati pandemi telah usai. Mengacu pada hasil riset Nielsen yang menyebut konsumsi produk herbal akan berada di kisaran 10%-20%. Ditambah lagi kecenderungan masyarakat yang berupaya untuk tetap sehat dan menghindari obat berbasis kimia, maka mereka akan tetap membutuhkan produk herbal. Ia membandingkan Singapura, Jepang dan Thailand yang tingkat konsumsi produk herbalnya berkisar antara US$ 15 – US$ 50 per tahun per kapita, sementara di Indonesia tingkat konsumsinya masih sangat rendah di angka US$ US$ 3 per tahun per kapita. “Harusnya pertumbuhan produk herbal masih terbuka luas,” tegas Leonard.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 14 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 24 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia