Jumat, 15 Mei 2026

Semester I-2022, Bank Neo Commerce (BBYB) Masih Catatkan Rugi Rp 611,4 M

Penulis : Indah Handayani
1 Aug 2022 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Logo PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)
Logo PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)

JAKARTA, investor.id – Semester I-2022, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) atau BNC masih mencatatkan rugi Rp 611,4 miliar. Meski demikian, perseroan menyebut, kerugian tersebut secara konsisten mengalami tren penurunan setiap bulannya. Kerugian yang tadinya mencapai Rp159,9 miliar pada Januari tahun 2022 terus mengalami penurunan, hingga akhirnya pada bulan Juni 2022, BBYB dapat membukukan laba sebesar Rp5,6 miliar.

Sampai dengan  semester I-2022, Bank Neo Commerce berhasil mencatatkan kenaikan total kredit menjadi Rp7 triliun atau naik sebesar 84,2% dibandingkan dengan posisi 30 Juni 2021 yang sebesar Rp3,8 triliun. Serta, meningkat 62,8% dibandingkan posisi 31 Desember 2021 yang sebesar Rp4,3 triliun. Penyaluran Kredit ini diantaranya dilakukan secara digital/online yang mana terbukti banyak diminati oleh masyarakat dan transaksi kredit melalui produk ini di kuartal II-2022 meningkat cukup signifikan.

Kenaikan dari sisi Kredit ini turut menaikan pendapatan bunga bersih (NII) BBYB menjadi Rp547,0 miliar atau naik sebesar 302% dibandingkan posisi 30 Juni 2021 yang sebesar Rp136,1 miliar. Serta, naik sebesar 73,2% jika dibandingkan posisi 31 Desember 2021 yang sebesar Rp315,9 miliar.  Disamping itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) BNC juga naik secara signifikan menjadi Rp176,1 miliar di Juni 2022 dari Rp 122,8 miliar pada Desember 2021 atau naik sebesar 973,8% jika dibandingkan posisi Juni 2021 yang sebesar Rp 16,4 miliar.

ADVERTISEMENT

Biaya promosi di semester I-2022 yang sebesar Rp 251,3 miliar, naik 139,8% apabila dibandingkan biaya promosi di Juni 2021 yang sebesar Rp104,8 miliar. BNC baru meluncurkan produk mobile banking, dengan nama neobank, di akhir Maret 2021, dan pengguna BBYB posisi akhir Juni 2022 sudah mencapai 18,5 juta atau 9x lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah pengguna per Juni 2021 yang sebanyak 2 juta pengguna. Alhasil, untuk biaya-biaya berkenaan dengan operasional di semester I-2021 tidak sebesar biaya di semester I-2022.

BBYB juga mencatatkan penurunan secara bertahap atas Rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dimana pada Desember 2021 di posisi 224,01%, turun menjadi 192,34% di Maret 2022 dan menjadi 156,75% pada Juni 2022. Tak hanya itu, rasio Net Interest Margin (NIM) pada Juni 2022 berhasil naik menjadi 10,16% dari 7,72% di Maret 2022 dan 5,15% pada posisi Desember 2021.

Selain itu, BNC juga mencatatkan berbagai pencapaian positif. Di sisi Aset juga naik cukup  signifikan, yaitu sebesar 104,6% dari Rp6,99 triliun di Juni 2021 menjadi Rp 14,3 triliun di Juni 2022, atau peningkatan sebesar Rp3 triliun (26,6%) bila dibandingkan Aset di Desember 2021 sebesar Rp 11,3 triliun. Sedangkan dari sisi likuiditas, perolehan DPK di Juni 2022, meningkat 37,03% dibandingkan perolehan Desember 2021 dari Rp 8,1 triliun menjadi Rp 11,1 triliun.  

Direktur Utama Bank Neo Commerce (BBYB) Tjandra Gunawan mengatakan, kinerja positif yang diraih oleh Bank Neo Commerce merupakan hasil dari semakin lengkapnya berbagai layanan dan fitur yang BNC hadirkan di aplikasi neobank. “Setahun terakhir, kami secara konsisten terus menambah berbagai layanan dan fitur keuangan digital yang benar-benar bermanfaat dan digunakan nasabah BNC. Berbagai layanan ini juga yang berkontribusi pada peningkatan kinerja kami yang cukup signifikan di semester I-2022,” jelas Tjandra.

Terkait pencapaian kinerja hingga akhir tahun, Tjandra mengaku optimistis mengarungi semester II-2022 seiring dengan semakin lengkapnya fitur dan layanan unggulan yang BNC hadirkan di beberapa waktu ke depan. Dengan demikian akan semakin banyak frekuensi transaksi nasabah hingga dapat mendongkrak kinerja di semester II-2022. Dengan jumlah nasabah lebih dari 18,5 juta saat ini, BNC diuntungkan mendapatkan use case terbaik sehingga dapat lebih leluasa mendengarkan masukan dari nasabah akan produk layanan seperti apa yang mereka inginkan, dari situ BBY Bberusaha mewujudkannya.

“Hal inilah yang menjadi resep terbaik mengapa berbagai layanan dan fitur kami langsung diminati oleh para nasabah”, tutup Tjandra.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia