Minyak Bergerak Datar Menanti Katalis Baru
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pada penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak datar menanti katalis baru di pasar. Sinyal tambahan pasokan dari AS dan Iran membuat harga minyak terbebani. Meski demikian, potensi gangguan lebih lanjut akan pasokan minyak Rusia ke Eropa memberikan dukungan pada harga minyak.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, di tengah kekhawatiran akan resesi, para perusahaan kilang minyak mentah AS menyatakan akan terus beroperasi pada kecepatan penuh di kuartal III ini dengan tujuan menjaga agar harga bensin tetap berada di bawah level tertinggi saat musim semi. Perusahaan kilang AS terbesar berdasarkan kapasitas, Marathon Petroleum Corp, mengatkan akan beroperasi pada 97% dari kapasitas 2.9 juta bph. Kilang terbesar kedua berdasarkan kapasitas, Valero Energy Corp juga mengatakan akan tetap beroperasi pada 90% - 93% dari kapasitas 2.2 juta bph.
“Komitmen dari para perusahaan kilang tersebut memicu kekhawatiran akan mendorong terjadinya pasokan berlebih di pasar, terlebih setelah Saudi Aramco dan Rusia memberikan sinyal akan meningkatkan produksi minyaknya,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (19/8/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, Iran diperkirakan akan meningkatkan ekspor minyaknya lebih lanjut didorong oleh penawaran diskon lebih besar terhadap minyak Rusia. Minyak mentah Iran bulan Agustus untuk tujuan Tiongkok ditawarkan dengan diskon US$11 per barel atau sekitar US$8 di bawah harga minyak mentah Rusia. Perusahaan konsultan energi SVB International memperkirakan ekspor minyak Iran pada Juli naik 110 ribu bph dari Juni menjadi 810 ribu bph.
“Selain itu, dengan adanya sinyal kemajuan dalam negosiasi nuklir, maka semakin menguatkan optimisme peningkatan pasokan dari Iran ke pasar minyak global,” papar Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, perusahaan minyak Rusia Lukoil pada hari Kamis memprotes keras keputusan Aker Energy dari Norwegia yang pada hari Rabu memutuskan untuk menunda pengajuan rencana pengembangan ladang minyak Pecan di lepas pantai Ghana. Situasi tersebut berpotensi memicu Rusia untuk menerapkan tekanan lebih lanjut pada Eropa, terutama dari sisi pasokan minyak.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, untuk indikator dalam waktu dekat yang dipantau oleh pasar adalah laporan mengenai jumlah rig minyak AS yang akan dirilis pada akhir pekan nanti oleh perusahaan layanan jasa energi Baker Hughes. Laporan ini biasa dijadikan indikator oleh pasar untuk melihat arah produksi minyak AS di masa mendatang.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 95 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 85 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






