Kamis, 14 Mei 2026

Harapan Damai Tipis, Trump Sebut Gencatan Senjata dengan Iran akan Hancur

Penulis : Grace El Dora
12 Mei 2026 | 21:24 WIB
BAGIKAN
Sistem anti-rudal Iron Dome Israel menembak untuk mencegat rudal saat sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv, Israel pada 23 Oktober 2024. (Foto: Nathan Howard/ Pool Photo via AP)
Sistem anti-rudal Iron Dome Israel menembak untuk mencegat rudal saat sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv, Israel pada 23 Oktober 2024. (Foto: Nathan Howard/ Pool Photo via AP)

WASHINGTON, investor.id – Harapan untuk mencapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian memudar pada Selasa (12/5/2027). Presiden AS Donald Trump menyatakan status gencatan senjata saat ini sedang dalam kondisi kritis atau "life support", menyusul penolakan Iran terhadap usulan perdamaian yang diajukan AS.

Ketegangan memuncak setelah Iran mengirimkan daftar tuntutan balasan yang memicu kemarahan Trump. Sang presiden bahkan terang-terangan menyebut dokumen tersebut sebagai "sampah".

"Saya menyebutnya kondisi terlemah saat ini, setelah membaca tumpukan sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak menyelesaikannya," ujar Trump sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (12/5/2026).

Iran sendiri mengajukan syarat berat untuk mengakhiri konflik, di antaranya:

ADVERTISEMENT

- Penghentian perang di semua lini, termasuk Lebanon.

- Pengakuan kedaulatan penuh Iran atas Selat Hormuz.

- Tuntutan ganti rugi kerusakan perang.

- Penghentian blokade laut oleh Amerika Serikat.

Harga Minyak Dunia Meroket

Buntut dari kebuntuan diplomasi ini langsung dirasakan pasar global. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga mendekati US$ 108 per barel. Hal ini disebabkan oleh penutupan sebagian besar jalur Selat Hormuz, jalur nadi yang biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Data Reuters menunjukkan produksi minyak negara-negara penghasil minyak (OPEC) pada April 2026 merosot ke level terendah dalam lebih dari dua dekade akibat gangguan ekspor dari wilayah Teluk.

Di pihak Iran, pejabat menunjukkan sikap yang tak kalah keras. Ebrahim Rezaei selaku juru bicara komisi kebijakan luar negeri parlemen Iran memperingatkan melalui unggahan di media sosial X, pemerintah Iran siap memperkaya uranium hingga kadar 90% (level senjata nuklir) jika kembali diserang.

Sementara itu, ketegangan meluas ke negara tetangga. Kuwait melaporkan telah menangkap empat orang yang diduga anggota Garda Revolusi Iran yang mencoba menyusup lewat jalur laut.

Dampak Politik Domestik AS

Di dalam negeri AS, perang ini mulai menjadi beban politik bagi Trump, terutama menjelang pemilihan kongres. Survei terbaru dari Reuters/ Ipsos menunjukkan dua dari tiga warga Amerika merasa Trump tidak memberikan penjelasan jelas mengenai alasan negara tersebut berperang.

Selain itu, beban biaya bahan bakar yang membengkak membuat popularitas pemerintah menurun.

Demi meredam keresahan publik, Trump berjanji akan menangguhkan pajak bahan bakar federal hingga situasi kondusif. "Begitu masalah dengan Iran ini selesai, Anda akan melihat harga bensin dan minyak jatuh seperti batu," janji Trump.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) untuk membahas krisis ini dengan Presiden China Xi Jinping.

Konflik yang pecah pada 28 Februari 2026 ini berakar dari perselisihan menahun terkait program nuklir Iran dan pengaruh regional di Timur Tengah. Ketegangan memuncak menjadi perang terbuka yang melibatkan serangan udara dan blokade maritim di Selat Hormuz.

Selat Hormuz adalah jalur air paling strategis di dunia bagi industri minyak. Lebarnya hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya, namun menjadi satu-satunya jalur keluar masuk bagi produsen minyak besar seperti Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Irak menuju pasar global.

Penutupan jalur ini tidak hanya memicu lonjakan harga energi di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi juga mengganggu stabilitas ekonomi di Asia, terutama China dan India.

Upaya gencatan senjata yang dimulai pada 7 April 2026 awalnya diharapkan menjadi pintu menuju perdamaian permanen. Namun, tuntutan kedaulatan wilayah dan kompensasi ekonomi kini kembali menjadi penghalang besar bagi kedua negara.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 29 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 39 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 51 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia