Dahsyat! Kontrak Baru Adhi Karya (ADHI) Melonjak 104%
JAKARTA, investor.id – PT Adhi Karya Tbk (ADHI) memperoleh kontrak baru sebesar Rp 15,9 triliun hingga Juli 2022, melonjak 104% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 7,8 triliun. Sebanyak 14% kontrak tersebut berasal dari proyek pemerintah, disusul 7% dari BUMN dan BUMD, serta 79% merupakan proyek swasta.
Corporate Secretary Adhi Karya Farid Budiyanto mengatakan, peningkatan capaian kontrak baru ini membuktikan proses pertumbuhan dan komitmen perseroan dalam meningkatkan kinerja secara berkala. "Pencapaian kontrak baru kali ini bukan hanya pada nilai kontrak yang diraih, tetapi juga kompetensi yang terus dikembangkan secara berkelanjutan,” jelas Farid dalam keterangan tertulis, Selasa (23/8/2022).
Dilihat dari lini bisnis, kata Farid, kontribusi kontrak baru perseroan mayoritas disumbang dari lini engineering dan konstruksi sebesar 87%, bisnis properti dan hospitality sebanyak 8%, dan sisanya dari lini bisnis lain.
Adapun beberapa tambahan kontrak besar yang digenggam Adhi Karya pada Juli 2022, di antaranya adalah Proyek Construction Service Work Unit Rate (CS-WUR) di Riau, Masjid Raya Batam Center, dan pekerjaan MRT Fase 2A Contract Package 202 (CP 202).
Perolehan kontrak pada proyek MRT Jakarta Fase 2A CP202 tersebut sehubungan keputusan PT MRT Jakarta (Perseroda) yang telah menetapkan Shimizu ADHI Joint Venture (SAJV) sebagai kontraktor pelaksana. ADHI bekerja sama dengan Shimizu dengan porsi sebesar 35%.
Kerja sama antara perseroan dan Shimizu sebelumnya juga terjalin dalam pembangunan MRT Jakarta Fase 2A CP201 (Bundaran HI-Harmoni). Sementara proyek MRT Fase 2A CP 202 mencakup pembangunan tiga buah stasiun bawah tanah dan jalur tunnel atau terowongan bawah tanah dari Harmoni sampai Mangga Besar.
Melalui pekerjaan proyek tersebut, emiten konstruksi pelat merah ini terus berkomitmen mengembangkan kompetensi di bidang prasarana perkeretaapian. Setelah menggarap proyek prasarana LRT Jabodebek dengan struktur elevated, perseroan selanjutnya meningkatkan pengembangan kompetensi di prasarana perkeretaapian dengan struktur underground.
Emiten BUMN Karya tersebut juga baru saja menerima realisasi pembayaran untuk dua proyek besar yang sedang dikerjakan, senilai Rp 2,8 triliun. Kedua proyek tersebut adalah Proyek LRT Jabodebek Fase I dan pekerjaan proyek Jalan Tol Sigli-Banda Aceh.
"Pembayaran kedua proyek besar tersebut diharapkan dapat meningkatkan likuiditas ADHI untuk mendukung percepatan penyelesaian proyek-proyek ADHI, khususnya Proyek Strategis Nasional," kata Farid.
Farid mengatakan, pihaknya mendapatkan pembayaran proyek LRT Jabodebek Fase I senilai Rp 1,6 triliun (termasuk PPN) dari Pemerintah melalui PT Kereta Api Indonesia (Persero). "ADHI juga mendapatkan cash in dari pekerjaan proyek Jalan Tol Sigli-Banda Aceh sebesar Rp 1,2 triliun (termasuk PPN) dari PT Hutama Karya (Persero)," tutur dia.
Dia mengungkapkan, proyek Pembangunan LRT Jabodebek diharapkan menjadi salah satu alternatif pengurai kemacetan di Ibu Kota Jakarta dengan kota penyangganya. Kemudian untuk proyek pembangunan Jalan Tol Sigli–Banda Aceh diharapkan dapat menjalin konektivitas di Pulau Sumatera Wilayah Utara.
"Kedua proyek ini diharapkan dapat meningkatkan arus orang, barang dan jasa, serta kehidupan perekonomian agar tercipta efisiensi ekonomi," kata Farid.
Sepanjang semester I-2022, sambung Farid, Adhi Karya membukukan pendapatan (revenue) sebesar Rp 6,3 triliun, naik 42,3% dibanding periode sama tahun lalu Rp 4,4 triliun. Kemudian dari sisi laba kotor, ADHI mencetak laba kotor sebesar Rp 699,3 miliar.
"Dari sisi bottom line, ADHI mencetak laba selama semester I-2022 sebesar Rp 10,2 miliar atau naik sebesar 23,5% dari laba bersih periode sama tahun lalu Rp 8,3 miliar. Peningkatan laba bersih ini mengindikasikan ADHI tetap bertumbuh di tengah kondisi recovery Covid-19 dan dampak kenaikan harga bahan baku," ujar dia.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






