Harga CPO Menguat Tiga Hari Berturut-turut
JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada perdagangan Selasa (13/9/2022). Alhasil, harga CPO menguat selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (13/9/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman September 2022 naik 209 Ringgit Malaysia menjadi 3.759 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 meningkat 209 Ringgit Malaysia menjadi 3.836 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak pengiriman November 2022 terkerek 215 Ringgit Malaysia menjadi 3.898 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 terdongkrak 281 Ringgit Malaysia menjadi 3.940 Ringgit Malaysia per ton.
Serta, kontrak pengiriman Januari 2023 naik 218 Ringgit Malaysia menjadi 3.980 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Februari 2023 menguat 218 Ringgit Malaysia menjadi 4.025 Ringgit Malaysia per ton.
Trader Minyak Sawit David Ng mengatakan, India, pembeli minyak nabati terkemuka dunia, sedang mempersiapkan musim perayaan bulan depan.
Pemilik dan salah satu pendiri Palm Oil Analytics yang berbasis di Singapura Sathia Varga mengatakan menurut sebuah badan perdagangan, India mengimpor 1,4 juta ton minyak nabati pada Agustus dari 1,21 juta ton pada Juli.
Baca Juga:
Reformasi Sawit NasionalDari jumlah tersebut, 994.997 ton adalah minyak sawit, lebih tinggi dari 530.420 ton yang diimpor pada Juli. Sisanya adalah minyak kedelai dan minyak bunga matahari masing-masing sebesar 244.697 ton (Juli: 519.566 ton), dan 135.308 ton (Juli: 155.300 ton).
Selain itu, pasar minyak kedelai yang lebih kuat juga membantu mendorong harga berjangka lebih tinggi.
Baik harga minyak kedelai di Chicago Board Of Trade (CBOT) dan Dalian Commodity Exchange Tiongkok diperdagangkan lebih tinggi.
Kenanga Research mengatakan harga minyak sawit telah turun 30% sejak Juni 2022 tetapi tetap relatif kuat, mengingat musim puncak telah tiba dan permintaan terus meningkat.
“Sementara harga mungkin tidak bergerak selama satu bulan atau lebih, diskon rekor harga minyak kedelai, permintaan Deepavali yang tertunda dari India dan peningkatan penjualan biodiesel, mendukung harga minyak sawit. Impor Tiongkok, yang bisa menjadi salah satu yang terbesar, juga harus meningkat ketika negara itu kembali ke normal baru pasca-Covid," tulis Kenanga Research dalam sebuah catatan.
Kenanga Research juga memproyeksikan harga CPO hingga akhir 2022 akan berada di 4.500 Ringgit Malaysia per ton.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






