Jumat, 15 Mei 2026

Habiskan Rp 1 Triliun, Timah (TINS) Segera Operasikan Smelter Berteknologi Mutakhir

Penulis : Muawwan Daelami
14 Sep 2022 | 23:18 WIB
BAGIKAN
Kegiatan di smelter PT Timah Tbk (TINS). (BeritaSatuPhoto/Defrizal)
Kegiatan di smelter PT Timah Tbk (TINS). (BeritaSatuPhoto/Defrizal)

JAKARTA, investor.id – PT Timah Tbk (TINS) menargetkan proyek Top Submerged Lance (TSL) Ausmelt Furnace atau smelter untuk pengolahan timah menjadi logam senilai US$ 73 juta atau setara Rp 1,08 triliun, mulai beroperasi pada November tahun ini.

Corporate Secretary Timah Abdullah Umar menjelaskan, proyek Ausmelt Furnace merupakan proyek yang dikembangkan sejak 2019 dan akan menjadi smelter perseroan yang menerapkan teknologi terbaru.

“Ini kami kembangkan, dan Insya Allah tahun ini bisa beroperasi. Saat ini, progresnya sudah 97%. Jadi diperkirakan November 2022 sudah mulai beroperasi,” kata Abdullah dalam paparan publik, Rabu (14/9/2022).

ADVERTISEMENT

Abdullah mengatakan, proyek tersebut semula ditargetkan beroperasi pada awal tahun ini. Namun karena kondisi Covid-19, pengoperasiannya terpaksa mundur.

Adapun kelebihan smelter tersebut, menurut Abdullah, terletak pada teknologi ausmelt yang bisa mengolah konsentrat bijih timah dengan kadar sekitar 40%. Jauh berbeda dengan smelter eksisting saat ini yang hanya mampu mengolah kadar bijih timah konsentrat sekitar 70%.

“Jadi, selain lebih efisien, tentunya smelter ini menjadi upaya bahwa kami akan masuk ke penambangan primer yang hasil kadarnya relatif lebih rendah dibandingkan tambang alluvial yang ada sekarang. Kemudian proses peleburannya akan lebih cepat dan ada efisiensi sekitar 25% sampai 34% dibanding smelter yang ada sekarang,” jelas dia.

Terkait proyek tersebut, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Timah Tbk Fina Eliani juga memperkirakan, proyek berkapasitas 40.000 ton crude tin per tahun ini akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan laba dan profitabilitas perseroan sekitar 25-34% di tahun-tahun berikutnya.

Selain diproyeksikan berkontribusi positif pada profitabilitas, proyek yang dibiayai Export Credit Agency (ECA) Financing asal Finlandia yaitu Finnvera dan Indonesia Eximbank ini juga menjadi upaya perseroan untuk menjawab tantangan yang berkaitan dengan rendahnya recovery dari proses peleburan eksisting dan berkurangnya bijih timah kadar tinggi untuk feed peleburan.

“Saat ini, untuk proyek Ausmelt kita dibiayai ECA financing di mana TINS mendapatkan fasilitas pendanaan dari Finnvera dan Indonesia Eximbank dengan total US$ 73 juta. Namun, yang akan kami gunakan hanya sekitar US$ 68 juta di tahun ini,” ujar Fina dalam paparan publik, Rabu (14/9/2022).

Menanggapi turunnya harga jual logam yang mencapai 50% di semester II-2022, Fina mengatakan, saat ini perseroan menggunakan harga pasar sebagai basi,s dan bukan menggunakan fixed price.

Selain itu, untuk menyiasati penurunan harga tersebut, perseroan juga telah mengoptimalisasikan harga jual logam untuk penjualan yang bersifat long term market. Lalu dari sisi operasi, perseroan juga mengoptimalisasikan sektor produksi agar dapat menekan harga pokok secara keseluruhan.

“Efisiensi di seluruh lini usaha terus menerus kami lakukan. Apalagi di 2022 ini kami akan lebih tekankan efisiensi, sehingga cash cost perseroan di semester II-2022 diperkirakan turun mengikuti penurunan harga jual logam,” ujar dia.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia