Jumat, 15 Mei 2026

Bos Antam (ANTM) Beberkan Progres JV dengan CBL dan LG, juga Rencana Divestasi

Penulis : Thresa Sandra Desfika
16 Sep 2022 | 11:54 WIB
BAGIKAN
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. (Foto ilustrasi: Perseroan)
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. (Foto ilustrasi: Perseroan)

JAKARTA, investor.id - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam memberikan penjelasan terkini terkait progres implementasi kerja sama lewat joint venture (JV) antara perseroan dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co (CBL) dan juga LG Energy Solution (LGES).

Sebelumnya, Antam, PT Industri Baterai Indonesia (Indonesia Battery Corporation/IBC), serta CBL (cucu usaha CATL) telah melakukan penandatanganan framework agreement. Selain itu, Antam dan IBC juga meneken framework agreement dengan LGES. Kedua perjanjian itu terkait pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Direktur Pengembangan Usaha Antam Dolok R Silaban menjelaskan, untuk pengembangan baterai, peranan Antam dimulai dari hulu, khususnya sektor pertambangan. Terkait kerja sama dengan CBL, nantinya Antam akan berperan aktif untuk memberikan suplai nikel ore yang akan disuplai dari area kerja Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara. Diperkirakan kapasitas serapan nikel ore ke depan mencapai 18 juta ton per tahun.

ADVERTISEMENT

“Di sini juga direncanakan akan dilaksanakan GB (groundbreaking) dalam waktu yang tidak lama lagi. Ini akan disesuaikan dengan jadwal dari persetujuan kita menentukan joint venture. Nah ini kita saat ini sedang menggarap joint venture agreement dalam tahap finalisasi dengan pihak CBL,” ungkap Dolok dalam Public Expose Live 2022 ANTM, Jumat (16/9/2022).

Di lain sisi, menurutnya, dengan LGES akan menyerap nikel ore dengan kapasitas 16 juta ton serapan nikel ore per tahunnya.

Dia menambahkan, kedua partner tersebut akan melakukan hilirisasi sampai dengan baterai recycle. Antam dalam peranannya sebagai pemegang saham merah putih tentu akan terlibat dalam hal penambangannya.

“Dan saat ini Antam membuat sebuah skema, kita akan divestasi nantinya kurang lebih 49% nickel ore resources-nya kepada pihak partner. Jadi Antam tetap sebagai 51%. Ini peran yang sangat penting untuk kita tetap bisa mengontrol operasi dari penggunaan nikel ore kita di Halmahera Timur, Maluku Utara,” imbuhnya.

Dolok mengatakan, total kapasitas serapan nikel ore nantinya akan berada di angka 32-34 juta ton per tahun. Ini juga menjadi sebuah pengembangan di sektor hulu untuk memanfaatkan nickel ore yang berkadar rendah.

“Hal inilah menjadi salah satu trigger kita untuk mau bekerja sama dengan mereka. Di sisi lainnya, kita akan memproduksi nantinya, dua partner ini, setelah kita lakukan, akan memproduksi nikel di seluruh kapasitas tersebut, kedua-duanya sebesar 340.000 ton nikel content di dalam rencana kerja sama tersebut,” lanjut Dolok.

Dia menambahkan, Antam saat ini sedang menyelesaikan JV agreement dengan kedua mitranya itu. “Dengan situasi sekarang kita sedang menyelesaikan joint venture agreement dengan dua partner tersebut,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Elisabeth RT Siahaan mengungkapkan, di dalam industri EV baterai, Antam berpartisipasi langsung maupun tidak langsung.

“Di sektor hulu terutama langsungnya, nanti bekerja sama dengan para investor untuk terus masuk ke downstream dari nikel hingga ke baterai. Hal ini sejalan dengan kapabilitas Antam di bisnis tambang dan komitmen kami untuk pengembangan bisnis downstream Antam,” terang dia.

Dia melanjutkan, di sektor hulu Antam yang akan fokus pada kegiatan penambangan sedangkan di sektor hilirnya Antam akan berpartisipasi secara langsung di downstream smelter maupun secara tidak langsung melalui IBC bersama dengan pemegang saham IBC lainnya.

“Pada April 2022 lalu, Antam sudah melakukan penandatanganan frame work agreement bersama dengan para calon investor dan saat ini masih terus dalam pembahasan untuk menuju kesepakatan  yang lebih definitif,” jelasnya.

Sebelumnya, rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Antam telah menyetujui pemisahan (spin-off) sebagian segmen usaha pertambangan nikel, serta pengalihan kekayaan berupa saham dengan total lebih dari 50% kepada dua anak usahanya, PT Nusa Karya Arindo (NKA) dan PT Sumberdaya Arindo (SD).

Spin-off sebagian segmen usaha pertambangan nikel berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara. SDA dan NKA merupakan anak perusahaan terkendali yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung 100% oleh Antam dengan segmen usaha di bidang pertambangan.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia