Jumat, 15 Mei 2026

Harga CPO Menguat

Penulis : Indah Handayani
21 Sep 2022 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Tandan buah segar (TBS) pohon kelapa sawit dipanen di perkebunan kelapa sawit Kuala Selangor, Malaysia  (FOTO: REUTERS/Hasnoor Hussain)
Tandan buah segar (TBS) pohon kelapa sawit dipanen di perkebunan kelapa sawit Kuala Selangor, Malaysia (FOTO: REUTERS/Hasnoor Hussain)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat pada perdagangan Selasa (20/9/2022). Terangkat berkat data ekspor Malaysia yang naik, ditambah lagi menguatnya perdagangan minyak kedelai di Chicago Board of Trade.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (20/9/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Oktober 2022 naik 70 Ringgit Malaysia menjadi 3.676 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 menguat 48 Ringgit Malaysia menjadi 3.702 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Desember 2022 terkerek 37 Ringgit Malaysia menjadi 3.737 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Januari 2023 terdongkrak 35 Ringgit Malaysia menjadi 3.768 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Serta, kontrak pengiriman Februari 2023 meningkat 32 Ringgit Malaysia menjadi 3.809 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Maret 2023 merugi 35 Ringgit Malaysia menjadi 3.848 Ringgit Malaysia per ton.

Data ekspor Malaysia yang dikumpulkan oleh surveyor kargo Intertek Testing Service mengungkapkan ekspor minyak sawit untuk 1-20 September naik 30,58% menjadi 950,827 ton dari 728.165 ton yang tercatat pada periode yang sama bulan lalu.

Surveyor kargo lain Amspec mengatakan ekspor naik 39,35% menjadi 866.984 ton dibandingkan 622.180 ton sebelumnya.

Secara terpisah, MIDF Research, menaikkan proyeksi pertumbuhan 2022 untuk ekspor dan impor Malaysia masing-masing menjadi 22,4% dan 29,5%. Hal itu menunjukan diversifikasi ke pasar baru untuk ekspor minyak sawit.

“Kami memperkirakan harga yang relatif lebih rendah akan membatasi pertumbuhan ekspor sektor, tetapi kemungkinan diversifikasi ke pasar baru dapat membantu mendukung ekspor minyak sawit,” tulis MIDF Research.

MIDF Research mengatakan, meskipun secara tahunan ekspor meningkat, tapi secara bulanan terjadi penurunan ekspor minyak sawit dan produk pertanian berbasis minyak sawit. Hal itu disebabkan oleh koreksi harga dan kendala pasokan.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia