Penguatan Harga Minyak Dibayangi Ancaman Resesi Global
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, pada penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak stabil didukung oleh sejumlah sentimen positif antara lain rencana penambahan sanksi terhadap Rusia, penegasan komitmen dari Saudi dan Rusia, serta sinyal kebuntuan negosiasi nuklir Iran. Meski demikian, kekhawatiran akan ancaman resesi global membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, Uni Eropa (UE) yang sedang mempertimbangkan pembatasan yang lebih ketat pada ekspor teknologi tinggi ke Rusia dan lebih banyak sanksi terhadap individu, kata para diplomat pada hari Kamis. Keputusan tersebut merupakan tanggapan atas tindakan Presiden Vladimir Putin yang pada hari Rabu mengumumkan mobilisasi parsial pasukan Rusia ke Ukraina yang meningkatkan ancaman penggunaan senjata nuklir.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung harga minyak, dalam pembicaraan yang berlangsung hari Kamis antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman yang memuji upaya dalam kerangka kerja OPEC+, dan membenarkan niat mereka untuk tetap pada kesepakatan yang ada. Selain itu, kedua negara pemimpin utama OPEC+ itu juga telah membahas upaya bekerja sama untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan di pasar minyak global.
“Berita tersebut mengisyaratkan potensi OPEC+ untuk tetap melanjutkan kebijakan pemangkasan produksinya pada pertemuan mendatang,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (23/9/2022).
Tim Research and Development ICDX menyebut, sentimen positif lain juga datang dari pernyataan seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS yang pada hari Kamis mengatakan bahwa upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir telah terhenti karena desakan Teheran pada penutupan penyelidikan pengawas nuklir PBB.
“Pernyataan tersebut meredakan ekspektasi tambahan pasokan dari Iran ke pasar minyak global dalam waktu dekat,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, kekhawatiran akan ancaman perlambatan ekonomi menuju resesi global semakin meningkat pasca langkah bank sentral AS yang menaikkan suku bunga secara agresif pada hari Rabu, diikuti oleh bank sentral utama lainnya seperti Bank Nasional Swiss, bank sentral Norwegia dan bank sentral Indonesia. Perlambatan ekonomi global berpotensi mengikis permintaan minyak dan bahan bakar.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 88 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






