Minyak Meredup Dibayangi Laporan API Serta Proyeksi Goldman Sachs
JAKARTA, investor.id - Tim Research and Development ICDX mengatakan, harga minyak pagi ini terpantau mengalami koreksi turun tipis pasca rilisnya laporan API serta proyeksi harga minyak terbaru dari Goldman Sachs. Meski demikian, menguatnya indikasi pemangkasan produksi OPEC+ dan ancaman Badai Ian membatasi penurunan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, persediaan minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 4,15 juta barel, ungkap laporan yang dirilis oleh grup industri American Petroleum Institute (API) untuk pekan yang berakhir 23 September. Untuk stok bensin juga dilaporkan naik sebesar 3,23 juta barel. Kenaikan stok minyak mentah serta bensin tersebut mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS.
“Meski demikian, pasar masih menantikan angka resmi versi pemerintah yang akan dirilis malam nanti oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA),” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Rabu (28/9/2022).
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga minyak, perusahaan bank investasi dan jasa keuangan multinasional terkemuka asal AS, Goldman Sachs pada hari Selasa memangkas perkiraan harga minyak seiring dengan meningkatnya tanda-tanda perlambatan ekonomi global.
Harga minyak untuk tiga bulan terakhir tahun ini direvisi turun menjadi US$100 per barel, dari sebelumnya US$125 per barel, dan untuk proyeksi harga tahun 2023 direvisi menjadi US$ 108 per barel, dari sebelumnya US$ 125 per barel. Meski demikian, Goldman Sachs mengatakan bahwa ada potensi bagi harga untuk naik dari level saat ini, karena aliansi OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan produksinya mendekati level saat ini untuk sisa tahun 2022. “Sehingga menjaga pasokan di pasar tetap ketat,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, Rusia kemungkinan akan mengusulkan agar OPEC+ mengurangi produksi minyak sekitar 1 juta bph pada pertemuan 5 Oktober nanti, ungkap sumber pada hari Selasa. Pernyataan tersebut semakin menguatkan keyakinan akan arah keputusan OPEC+, terlebih dengan situasi harga minyak saat ini yang sedang turun, serta ditambah dengan kesulitan beberapa anggota OPEC+ untuk memenuhi target peningkatan produksi dalam beberapa bulan terakhir.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, sentimen positif lain juga datang dari ancaman Badai Ian yang memasuki Teluk Meksiko pada hari Selasa dan berdampak pada penutupan sekitar 10% perusahaan produsen minyak AS di wilayah tersebut untuk keperluan evakuasi. Badai Ian menjadi badai pertama tahun ini yang mengganggu produksi minyak dan gas di Teluk Meksiko AS, yang menjadi pusat produksi energi AS dan memasok sekitar 15% minyak mentah serta 5% gas alam.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






