Di Tengah Ketidakpastian, Pasar Modal Indonesia Tetap Menarik
JAKARTA, investor.id – Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, optimistis pasar modal Indonesia masih tetap menarik di tengah ketidakpastian yang sangat tinggi akibat krisis pangan, krisis energi, dan krisis finansial di berbagai negara.
“Di tengah penurunan indeks saham Dow Jones, pelaku pasar modal domestik cukup lega penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.040. Indeks Dow Jones ditutup di angka 28.730, di mana sebelumnya pernah ada di level 30.000. Ke depan, Dow Jones diproyeksi masih ada tren penurunan, walau tetap ada kemungkinan untuk kembali rebound,” kata Liza saat menjadi pembicara pada diskusi Investment Talk bertema ‘The Queen’s Gambits: Strategi di Tengah Resesi’ yang digelar D’Origin Financial & Business Advisory bekerja sama Igico Advisory, Minggu (2/10/2022).
Research Assistant-Institute for Economic and Social Research LPEM-FEBUI Syahda Sabrina, Investment Specialist Rita Effendy, dan Capital Market Practitioner Jani Liza mengungkapkan bahwa IHSG mampu bertahan pada level psikologis yaitu 7.000. Meski, lanjutnya, untuk jangka pendek akan ada halangan di level 7.140, lalu beranjak ke level 7.200.
“Walau ada kemungkinan turun, namun ini tidak akan mengganggu tren peningkatan IHSG ke level 7200. Strateginya, untuk jangka pendek speculative buy atau buy on weakness,” jelas Liza.
Dari segi valuasi IHSG, katanya, masih menarik dengan price to earning ratio (PE) mencapai 15 kali. “Ini disebutnya mirip dengan posisi IHSG saat berada di level rendah pada Maret 2020. “Berarti kita [IHSG] undervalue,” jelas dia.
Ia pun memerinci sektor-sektor apa saja yang menguntungkan ke depan. Disebutkan, saat ini harga batu bara berada pada kisaran US$ 430 per ton hingga US$440 per ton masih cukup kencang peningkatannya ke depan.
Apalagi, musim dingin sudah membayangi di Eropa, sedangkan suplai gas Rusia terbatas di mana sudah banyak pipanya yang ditutup. Di Tiongkok, sudah terjadi heatwave yang notabene perlu listrik. Negara-negara Eropa balik lagi ke batu bara.
“Tren ke depan masih sangat kencang. Harga batu bara akan turun jika suplai minyak dan gas dari Rusia bisa berjalan normal lagi,” jelas Liza.
Investment Specialist Rita Effendy menambahkan, setidaknya ada tiga sektor yang menarik, yakni perbankan, komoditas energi, dan energi baru terbarukan (EBT). Perbankan menjadi menarik dikarenakan capital inflow dari asing masih memilih emiten dengan market cap terbesar, yang notabene didominasi perbankan.
“Salah satu yang paling besar adalah BBCA. Selain BBCA ada juga BBRI yang cukup menarik. BBRI, BMRI dan BBNI, biasanya 4 bank ini akan menjadi incaran asing. Karena memang selain market cap yang besar mereka juga masih banyak katalis-katalis yang cukup menarik,” kata Rita.
Sedangkan dari sisi komoditas, kata dia, adalah terkait dengan energi, di antaranya gas dan batu bara. Emiten yang terkait energi dinilai memiliki prospek cukup baik ke depan. Selain itu, saham yang memiliki prospek menjanjikan adalah produsen pulp karena banyak negara di Eropa yang terganggu produksi pulp-nya akibat minimnya pasokan gas dari Rusia.
“Sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) juga sangat potensial, karena didukung ada road map dan kebijakan pemerintah terkait EBT, dari kementerian ESDM saat ini EBT masih 11% diterbitkan pada 2050 sebesar 30%. Lalu, ada kebijakan pajak karbon yang akan rampung pada akhir 2022. Ini akan mendukung sektor EBT ke depan. ARKO, KEEN, menjadi pilihan yang menarik,” jelas Rita.
Sementara itu, Capital Market Practitioner Jani, yang mengandalkan Cacing Rotation Graph (CRG) melihat bahwa sektor kesehatan memiliki tren meningkat ke depan. Emiten yang cukup potensial pada sektor kesehatan ialah PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk dengan kode MIKA.
Dalam 4 kuadran yang dikategorikan dalam CRG, MIKA berada di kuadran 1 atau berada di leading quadrant, sedangkan tiga kuadran lainnya adalah weakening quadrant, lagging quadrant, dan improving quadrant. CRG digunakan sebagai petunjuk when to buy, when to sale, dan when to hold, serta what to buy, what to sale, dan what to hold.
“Per 30 September 2022 ada TLKM, TLKM, BFIN, BMRI, dan MIKA yang mengalami bullish. MIKA sumbu x dan y nya positif dan berada di kuadran 1, jadi sangat potensial,” kata Jani.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






