Jumat, 15 Mei 2026

Di Tengah Ketidakpastian, Pasar Modal Indonesia Tetap Menarik 

Penulis : Novy Lumanauw
3 Okt 2022 | 10:43 WIB
BAGIKAN
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

JAKARTA, investor.id – Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata, optimistis pasar modal Indonesia masih tetap menarik di tengah ketidakpastian yang sangat tinggi akibat  krisis pangan, krisis energi, dan krisis finansial  di berbagai negara.

“Di tengah penurunan indeks saham Dow Jones, pelaku pasar modal domestik cukup lega penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  berada di level 7.040. Indeks Dow Jones ditutup di angka 28.730, di mana sebelumnya pernah ada di level 30.000. Ke depan,  Dow Jones diproyeksi masih ada tren penurunan, walau tetap ada kemungkinan untuk kembali rebound,” kata Liza saat  menjadi pembicara  pada diskusi Investment Talk bertema ‘The Queen’s Gambits: Strategi di Tengah Resesi’ yang digelar  D’Origin Financial & Business Advisory bekerja sama Igico Advisory, Minggu (2/10/2022).   

Research Assistant-Institute for Economic and Social Research LPEM-FEBUI Syahda Sabrina, Investment Specialist Rita Effendy, dan Capital Market Practitioner Jani Liza mengungkapkan bahwa  IHSG mampu  bertahan pada  level psikologis yaitu 7.000.  Meski,  lanjutnya, untuk jangka pendek akan ada halangan di level 7.140, lalu beranjak ke level 7.200.

ADVERTISEMENT

“Walau ada kemungkinan turun, namun ini tidak akan mengganggu tren peningkatan IHSG ke level 7200. Strateginya, untuk jangka pendek speculative buy atau buy on weakness,” jelas Liza.

Dari segi valuasi IHSG, katanya, masih menarik dengan price to earning ratio (PE) mencapai  15 kali. “Ini disebutnya mirip dengan posisi IHSG saat berada di level rendah pada Maret 2020. “Berarti kita [IHSG] undervalue,” jelas dia.

Ia pun memerinci  sektor-sektor apa saja yang  menguntungkan ke depan. Disebutkan, saat ini harga batu bara berada pada kisaran US$ 430 per ton hingga US$440 per ton masih cukup kencang peningkatannya ke depan.

Apalagi, musim dingin  sudah membayangi di Eropa, sedangkan suplai gas Rusia terbatas di mana sudah banyak pipanya yang ditutup. Di Tiongkok,  sudah terjadi heatwave yang notabene perlu listrik. Negara-negara Eropa balik lagi ke batu bara.

“Tren ke depan masih sangat kencang. Harga batu bara akan turun jika suplai minyak dan gas dari Rusia bisa berjalan normal lagi,” jelas Liza.

Investment Specialist Rita Effendy  menambahkan, setidaknya ada tiga sektor yang menarik, yakni  perbankan, komoditas energi,  dan energi baru terbarukan (EBT). Perbankan  menjadi menarik dikarenakan capital inflow dari asing masih memilih emiten dengan  market cap terbesar, yang notabene didominasi perbankan.

“Salah satu yang paling besar adalah BBCA. Selain BBCA ada juga BBRI yang cukup menarik. BBRI, BMRI dan BBNI, biasanya 4 bank ini akan menjadi incaran asing. Karena memang selain market cap yang besar mereka juga masih banyak katalis-katalis yang cukup menarik,” kata Rita.

Sedangkan dari sisi  komoditas,  kata dia,  adalah terkait dengan energi, di antaranya gas dan batu bara. Emiten yang terkait energi  dinilai memiliki prospek cukup baik ke depan. Selain itu, saham yang memiliki prospek menjanjikan  adalah produsen pulp karena banyak  negara di Eropa yang terganggu produksi pulp-nya akibat minimnya pasokan gas dari Rusia.  

“Sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) juga sangat potensial, karena didukung ada road map dan kebijakan pemerintah terkait EBT, dari kementerian ESDM saat ini EBT masih 11% diterbitkan pada 2050 sebesar 30%. Lalu, ada kebijakan pajak karbon yang akan rampung pada akhir 2022. Ini akan mendukung sektor EBT ke depan. ARKO, KEEN, menjadi pilihan yang menarik,” jelas Rita.

Sementara itu,  Capital Market Practitioner Jani, yang mengandalkan Cacing Rotation Graph (CRG) melihat bahwa sektor kesehatan memiliki tren meningkat ke depan. Emiten yang cukup potensial pada sektor kesehatan ialah PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk dengan kode MIKA.

Dalam 4 kuadran yang dikategorikan dalam CRG, MIKA berada di kuadran 1 atau berada di leading quadrant, sedangkan tiga kuadran lainnya adalah weakening quadrant, lagging quadrant, dan improving quadrant.  CRG  digunakan sebagai petunjuk when to buy, when to sale, dan when to hold, serta what to buy, what to sale, dan what to hold.

“Per 30 September 2022 ada TLKM, TLKM, BFIN, BMRI, dan MIKA yang mengalami bullish. MIKA sumbu x dan y nya positif dan berada di kuadran 1, jadi sangat potensial,” kata Jani.  

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia