Inflasi AS Masih Tinggi, Bitcoin Berpotensi Kembali Sideways
JAKARTA, investor.id – Angka inflasi yang masih tinggi akan terus menyebabkan pasar aset kripto kurang bergairah. Hal tersebut didukung dengan adanya kemungkinan rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0.75-1 bps sehingga pasar diekspektasikan masih akan sideways ke depan.
Dikutip dari Pintu Academy, data Consumer Price Index (CPI) secara tahunan pada bulan September naik 8.2%. Angka tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibanding proyeksi konsensus sebesar 8.1%, dan sedikit turun dari angka bulan sebelumnya yaitu 8.3%. Jika melihat tren harga dengan mengeluarkan indeks pangan dan bahan bakar, indeks inti naik sebesar 6.6%, di mana kenaikan terbesar dan tercepat sejak tahun 1982 silam.
Bahkan di tahun 2022 The Fed sudah menaikkan suku bunga sebanyak 5 kali berturut-turut dengan tiga di antaranya naik sebesar 75 bps. Oleh sebab itu, investor perlu bersiap untuk menghadapi kenaikan suku bunga yang besar pada bulan November.
“Kondisi tersebut membuat Bitcoin dan aset kripto lainnya masih kesulitan untuk bergerak menguat. Bitcoin telah beberapa kali bergerak ke level resistance pada garis tren multi-week di mana area US$ 20.000 menjadi level resistance psikologis bagi Bitcoin saat ini,” kata Chief Marketing Officer PINTU Timothius Martin dalam keterangan resmi, Selasa (18/10/2022).
Bitcoin dan aset besar kripto lainnya turut mengalami koreksi pasca rilis data CPI. Pada satu titik, BTC sempat terjun ke area US$ 18.160 sebelum akhirnya kembali ke area US$ 19.500.
Untuk mengetahui apakah BTC mampu menembus titik resistance di 20.000, butuh waktu menunggu dikarenakan saat ini BTC masih bergerak sideways. Selain itu, level psikologis 20.000 selama ini juga menjadi area yang kuat untuk pergerakan sideways BTC. Pada hari Sabtu, Bitcoin juga sempat bergerak menuju level resistance di garis tren multi-week Saat ini, 17.500 dan 16.000 menjadi level support untuk Bitcoin.
“Di tengah kondisi pasar yang bearish, lebih banyak investor yang menjual dalam posisi merugi. Hal tersebut dapat menandakan market bottom. Untuk pergerakan holders jangka panjang juga lebih rendah dibandingkan rata-rata, di mana holders memiliki motif untuk menahan aset yang telah diinvestasikan. Bagi investor tengah sedang berada pada fase kapitulasi di mana mereka saat ini menghadapi kerugian yang belum direalisasikan. Dapat dilihat bahwa, berkurangnya motif untuk merealisasikan kerugian yang berujung pada berkurangnya tekanan jual,” tutup Timo.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






