Jumat, 15 Mei 2026

BTN (BBTN) Rights Issue Bulan Depan, Cek Fakta-fakta Menarik Ini

Penulis : Parluhutan Situmorang
3 Nov 2022 | 14:05 WIB
BAGIKAN
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)

JAKARTA, Investor.id - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) akan menggelar penawaran umum terbatas II atau rights issue pada Desember 2022. Rights issue ini merupakan penggalangan dana kedua setelah penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) yang dilaksanakan pada 13 tahun lalu.

Berdasarkan Prospektus emiten bank yang fokus pada pembiayaan perumahan ini akan menerbitkan sebanyak 4,6 miliar saham dengan nominal Rp 500. Harga nominal tersebut bukan harga eksekusi atau pelaksanaan rights issue. Sebab, penentuan harga rights issue bakal ditetapkan menjelang pernyataan efektit dari regulator.

Namun, sebagai indikasi, harga pelaksanaan diperkirakan berada pada kisaran Rp 900 sampai Rp1.000. Angka perkiraan ini bersumber dari indikasi target rights issue yang telah diumumkan sebelumnya, yakni Rp 4,13 triliun dengan melepas sebanyak 4,6 milar saham. Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham pengendali akan melaksanakan haknya secara penuh dengan penyertaan modal senilai Rp 2,48 triliun.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan prospektus disebutkan bahwa cum-right  perdagangan saham dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) pada 12 Desember di pasar reguler dan pasar negosiasi atau 14 Desember di pasar tunai. Artinya, pemodal yang memiliki saham BBTN hingga perdagangan berakhir pada tanggal tersebut akan mendapatkan saham rights issue.

Perseroan juga menetapkan tanggal perdagangan saham tanpa HMETD atau ex-right pada 13 Desember untuk pasar reguler dan pasar negosiasi dan 15 Desember. Indikasi distribusi HMETD akan dilakukan pada 15 Desember dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 16 Desember.

Periode untuk mengeksekusi rights issue tergolong singkat, yakni hanya 6 hari kerja mulai dari 16 Desember sampai 23 Desember. Pada tanggal yang sama anda bisa memperdagangkan HMETD. Adapun indikasi penyerahan saham baru hasil eksekusi HMETD akan dilakukan pada 20-27 Desember 2022.

Dalam prospektus tersebut disampaikan ada pembeli siaga atau standby buyer dalam aksi korporasi ini. Namun belum disebutkan siapa yang menjadi standby buyer. Keberadaan pembeli siaga ini tentu menjadi kabar baik untuk investor publik.

Penerbitan saham baru ini tentu menimbulkan efek dilusi bagi para pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya. Maka itu, investor mesti mengingat tanggal indikatif aksi korporasi ini terutama cum date, ex date dan periode perdagangan rights.

Harga Menarik

Sementara itu, analis MNC Sekuritas Tirta Widi Gilang Citradi menilai, rights issue BBTN menarik, karena di bawah harga wajarnya. Pada perdagangan kemarin, harga saham BBTN ditutup pada level Rp 1.535 yang mencerminkan setara dengan 0,77X price to book value (PBV).

"Secara potensi valuasi jangka panjang, kami memiliki target harga untuk BBTN adalah Rp 2.200,” kata Tirta.

Jika harga pelaksanaan ditetapkan di level Rp 900 - 1.000, PBV perseroan lebih murah lagi. Artinya, investor mendapatkan peluang emas untuk menebus saham BBTN di harga super diskon dengan nilai BV super murah. Apalagi harga saham induk BBTN mampu mencapai 1x PBV di kisaran Rp 2.000 persaham sebelum cumdate.

Mengacu ke paparan manajemen sebelumnya, BBTN punya kemampuan menyalurkan 1,3 juta unit rumah untuk periode waktu yang sama apabila rights issue terserap maksimal. Kenaikan penyaluran kredit sudah pasti berimplikasi pada pertumbuhan pendapatan bunga. Apalagi, BBTN fokus bermain di segmen MBR dan milenial yang memang membeli rumah pertama dan untuk ditinggali. Sehingga permintaan dari segmen ini akan relatif stabil meskipun kondisi ekonomi dalam tekanan.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia