Laporan OPEC dan Situasi Covid-19 di Tiongkok Bebani Pergerakan Harga Minyak
JAKARTA, investor.id - Harga minyak pagi ini menguat tipis didukung oleh isyarat AS untuk memberikan tekanan lebih lanjut terhadap Iran. Meski demikian beberapa sentimen di pasar seperti laporan bulanan OPEC, situasi Covid di Tiongkok, dan sinyal pengurangan pembelian minyak Rusia oleh Tiongkok memberikan tekanan terhadap pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, Lembaga registrasi kapal internasional memutuskan untuk mencabut bendera pada 5 kapal tanker minyak, dengan tuduhan telah memfasilitasi perdagangan minyak untuk Hizbullah dan Pasukan Quds Iran, organisasi nonpemerintah United Against Nuclear Iran (UANI) mengatakan pada hari Senin.
“Pencabutan bendera tersebut membuat kapal tanker tidak lagi dapat berlayar di jalur pelabuhan internasional, dan sekaligus merupakan salah satu upaya AS untuk memberikan tekanan lebih lanjut terhadap Iran agar segera menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, dan juga atas aksi unjuk rasa baru-baru ini serta penjualan drone ke Rusia,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (15/11/2022).
Baca Juga:
Tertekan, Minyak Turun Lebih dari 3%Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, dalam laporan pasar minyak bulanan terbaru yang dirilis OPEC, permintaan minyak global untuk tahun 2022 dan 2023 direvisi turun masing-masing sebesar 100 ribu barel menjadi 2.5 juta bpd dan 2.2 juta bpd. OPEC juga menambahkan perkiraan produksi untuk kuartal akhir tahun ini juga diturunkan sebesar 520 ribu barel menjadi 28.9 juta bph, karena faktor perekonomian dunia yang lebih lemah dan langkah-langkah penanganan Covid yang ketat di Tiongkok.
“Aliansi 23 negara produsen minyak itu dijadwalkan akan bertemu kembali pada 4 Desember di Wina guna membahas kebijakan produksi untuk awal tahun 2023,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, angka infeksi Covid-19 di Tiongkok kembali menunjukkan peningkatan. Mengutip dari laporan Komisi Kesehatan Nasional, angka infeksi harian baru per 14 November mencapai 17,909 kasus, dibandingkan 16,203 kasus sehari sebelumnya. Selain itu data statistik Tiongkok terbaru yang dirilis hari Selasa menunjukkan pelemahan pada output industri, penjualan ritel, serta investasi properti di bulan Oktober, akibat dari pembatasan serta langkah-langkah pemerintah dalam mengatasi penyebaran Covid.
Tidak hanya itu, Tim Research and Development ICDX menyebut, Tiongkok juga dilaporkan bahwa pabrik penyulingan di Tiongkok mulai mengurangi laju pembeliaan minyak Rusia pada bulan Desember serta membayar premi yang lebih rendah dalam menghadapi sanksi Uni Eropa (UE) yang akan segera terjadi dan ketidakpastiaan rencana batas harga yang diinisiasi oleh G7.
Mengutip dari sumber pedagang pada Senin (14/11/2022), dikatakan bahwa hanya sekitar 5-7 kargo minyak Rusia untuk pengiriman bulan Desember ke Tiongkok yang telah terjual, dibandingkan rata-rata sekitar 30 kargo untuk pengiriman setiap bulan dari Rusia ke Tiongkok. Sumber itu juga menambahkan bahwa premi yang dibayar berkisar US$ 1,70 – 1,90 per barel di atas harga ICE Brent bulan Februari, turun dari premi untuk kargo November di sekitar US$2 per barel, dan premi dua minggu lalu di sekitar US$ 2,7 per barel.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 88 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 82 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






