Komitmen AS Terapkan Batas Harga Dukung Minyak Kembali Menguat
JAKARTA, investor.id - Pada penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau mengalami koreksi naik didukung oleh sentimen dari sinyal keseriusan AS untuk menerapkan batasan harga minyak Rusia, dan penjatuhan sanksi terbaru terhadap Iran yang menargetkan perusahaan minyak dan gas. Meski demikian, infeksi Covid-19 di Tiongkok yang telah menyentuh rekor tertinggi sejak April serta isyarat perlambatan permintaan dari negara importir minyak utama membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, pemerintah AS berencana merilis panduan yang lebih jelas mengenai batasan harga minyak Rusia dalam beberapa hari kedepan, dan siap untuk beberapa potensi ganjalan yang mungkin akan ditemui saat pemberlakuannya pada 5 Desember mendatang, ungkap seorang pejabat Departemen Luar Negeri pada hari Kamis.
Baca Juga:
Minyak Anjlok Lebih dari 3%“Sebelumnya, pada bulan November ini, negara Barat dan sekutunya telah menyepakati untuk menetapkan batas harga dengan besaran tetap untuk minyak Rusia, dan meminta semua negara yang ingin berpartisipasi agar menolak menerima kargo apabila ternyata harga di atas batas yang disepakati,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Jumat (18/11/2022).
Masih dari AS, Tim Research and Development ICDX menyebut, Departemen Keuangan AS pada hari Kamis menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran yang menargetkan 13 perusahaan minyak dan gas di berbagai negara, termasuk Tiongkok, Hong Kong dan Uni Emirat Arab (UEA), dengan tuduhan telah memfasilitasi penjualan petrokimia Iran dan produk minyak Iran kepada pembeli di Asia Timur.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, mengatakan, kota Guangzhou di Tiongkok selatan sedang mendirikan rumah sakit darurat dan tempat karantina dengan kapasitas hampir 250 ribu tempat tidur untuk pasien Covid-19, ujar para pejabat kota pada hari Kamis, ketika total kasus Covid-19 di Tiongkok mencapai tingkat tertinggi sejak April. Komisi Kesehatan Nasional melaporkan angka infeksi harian baru di Tiongkok mencapai 25,353 kasus pada 17 November, naik dari 23,276 kasus sehari sebelumnya.
“Perkembangan situasi Covid-19 tersebut turut memicu kekhawatiran akan berdampak pada penurunan permintaan minyak akibat langkah-langkah pembatasan dan lockdown yang lebih ketat di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu,” tambah Tim Research and Development ICDX.
Turut membebani pergerakan harga, perusahaan kilang minyak di India terlihat mulai berhati-hati dalam membeli minyak Rusia, sambil menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai mekanisme batas harga yang diinisiasi oleh G7. Reliance Industries Ltd yang merupakan perusahaan pengelola kompleks penyulingan terbesar dunia dan sekaligus pembeli utama minyak Rusia, belum melakukan pemesanan kargo untuk pemuatan setelah 5 Desember, ungkap sumber yang dikutip Reuters pada hari Kamis. Sebelumnya, perusahaan kilang di Tiongkok telah mulai menurunkan impor minyak Rusia mulai bulan depan.
Sehingga, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, dengan isyarat perlambatan impor dari India ini, maka berpotensi membebani permintaan minyak lebih lanjut, karena India sendiri merupakan negara importir sekaligus konsumen minyak terbesar ketiga dunia.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 85 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






