Minyak Kembali Stabil Didukung Pernyataan Saudi Serta Rusia
JAKARTA, investor.id - Harga minyak Selasa pagi (22/11/2022) terpantau kembali bergerak stabil didukung oleh sentimen dari penegasan Saudi terkait potensi peningkatan pasokan, dan isyarat penurunan produksi oleh Rusia. Meski demikian, ancaman kasus Covid-19 di Tiongkok yang kian melonjak, membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX mengatakan, Menteri energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menegaskan bahwa Saudi akan tetap mempertahankan pemangkasan produksi dan tidak membahas keputusan apapun dengan produsen minyak lainnya, kutip kantor berita negara SPA pada Senin (21/11/2022).
Pernyataan tersebut merupakan tanggapan atas berita yang beredar sebelumnya dari The Wall Street Journal yang mengatakan bahwa OPEC dan sekutunya mempertimbangkan peningkatan produksi hingga 500 ribu bph dalam pertemuan OPEC+ pada 4 Desember mendatang. Pangeran Abdulaziz juga menambahkan bahwa Saudi siap menggandakan komitmen untuk membatasi pasokan lebih lanjut guna mendukung harga.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada hari Senin kembali menegaskan bahwa Rusia tidak akan memasok minyak ataupun produk turunannya ke negara-negara yang memberlakukan batasan harga terhadap ekspor minyaknya, dan mungkin juga akan memangkas produksi minyak mentahnya.
“Pernyataan Novak ditambah dengan komitmen dari Saudi sebelumnya menambah keyakinan bahwa pasokan minyak dari OPEC dan sekutunya ke pasar global masih akan tetap ketat dalam jangka pendek,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Selasa (22/11/2022).
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, sentimen positif lain juga datang dari berita serangan terhadap terminal minyak al-Dhabba di provinsi Hadhramaut pada hari Senin yang dilakukan oleh kelompok Houthi Yaman. Akibat serangan tersebut, kapal tanker yang telah memasuki terminal untuk memuat kargo minyak mentah langsung meninggalkan wilayah tersebut, ungkap para pekerja terminal.
Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menjelaskan, kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi Tiongkok seiring dengan lonjakan penyebaran infeksi Covid turut meredupkan pertumbuhan ekonomi dan membebani permintaan bahan bakar karena peningkatan pembatasan serta penguncian di negara importir minyak terbesar pertama dunia itu.
Kota Beijing yang merupakan ibu kota Tiongkok melaporkan kematian pertama sejak akhir Mei akibat Covid, dan telah menutup bisnis dan sekolah, serta memperketat aturan untuk memasuki kota karena meningkatnya kasus Covid. Secara total, infeksi harian baru mencapai 28,127 kasus pada 21 November, naik dibanding 27,095 kasus sehari sebelumnya, ungkap laporan terbaru dari Komisi Kesehatan Nasional.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 84 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 76 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






