Jumat, 15 Mei 2026

Setahun Melantai di Bursa, Mitratel (MTEL) kini Terbesar di Asia Tenggara

Penulis : Jauhari Mahardhika
24 Nov 2022 | 12:46 WIB
BAGIKAN
Menara milik PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel. (Foto: Perseroan)
Menara milik PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel. (Foto: Perseroan)

JAKARTA, investor.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur digital dan telekomunikasi, telah genap satu tahun melantai di Bursa Efek Indonesia. Mitratel kini menjadi perusahaan menara telekomunikasi independen terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko atau yang biasa disapa Teddy mengatakan, ada empat capaian yang berhasil diraih perseroan selama setahun tercatat di BEI sejak 22 November 2021. Menjadi perusahaan menara telekomunikasi independen terbesar di Asia Tenggara adalah salah satunya.

“Mitratel telah menyiapkan insfrastruktur telekomunikasi, baik itu menara, connectivity (fiber dan satellite) dan power to tower yang tersebar di seluruh Indonesia untuk memberikan solusi yang terlengkap dan terintegrasi untuk seluruh operator telekomunikasi,” kata Teddy di Jakarta, Rabu (23/11/2022).

ADVERTISEMENT

Menurut Teddy, secara global, tren bisnis menara telekomunikasi bergeser dari towerco menjadi digital infraco di masa depan untuk menyediakan layanan seluler dan menumbuhkan ekosistem digital.

Di Indonesia, towerco telah bergerak untuk menangkap potensi pertumbuhan penyediaan infrastruktur digital guna mendorong pertumbuhan bisnis di masa depan. Terutama, terkait penyediaan infrastruktur fiber optic untuk mendukung layanan seluler (4G/5G) dan ekosistem digital.

“Mitratel sebagai bagian dari Telkom Group akan senantiasa mengambil peran dalam menyiapkan roadmap ke digital infraco untuk pengembangan portofolio yang berfokus pada penyediaan infrastruktur fiber optic/tower fiberisation,” jelas Teddy.

Emiten berkode saham MTEL ini akan terus menjaga pertumbuhan dan berkembang menjadi perusahaan tower (towerco) terbesar di regional yang adaptif terhadap perubahan. Adapun saat ini, sebesar 28% saham MTEL dimiliki publik.

Lalu, pencapaian kedua adalah perseroan kini menjadi perusahaan penyedia menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dari sisi kepemilikan menara, melalui berbagai pembangunan tower dan aksi korporasi.

Tenancy ratio MTEL 1,44 kali dan 58% menara di luar Jawa yang menjadi ruang pertumbuhan dengan perluasan layanan operator seluler ke seluruh Indonesia,” tutur Teddy.

Setahun Melantai di Bursa, Mitratel (MTEL) kini Terbesar di Asia Tenggara
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko. (Foto: Perseroan)

Hingga kuartal III-2022, Mitratel memiliki total 35.051 menara telekomunikasi, setelah sukses mengakuisisi 6.000 menara milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), beberapa waktu lalu.

Ketiga, menurut Teddy, Mitratel memiliki leverage rendah dan tanpa eksposur terhadap risiko nilai tukar mata uang asing. Perseroan cukup tangguh terhadap eksposur makro ekonomi dengan catatan net-debt to EBITDA 1,7 kali, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 100%, dan seluruh utang dalam mata uang rupiah.

“Keempat, MTEL juga menjadi perusahaan terdepan di industri dengan tingkat investasi yang sangat baik,” ujar Teddy.

Dia menjelaskan, MTEL telah meraih peringkat investment grade yang sangat baik dari Pefindo, yaitu peringkat AAA dengan outlook stabil. Saham MTEL juga masuk dalam daftar indeks FTSE Global Equity IDX80, Kompas 100, IDX ESG Leaders, dan ISSI Index.

Selama periode Januari-September 2022, MTEL berhasil membukukan pendapatan melesat 11,5% secara tahunan menjadi Rp 5,6 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 5,02 triliun. Lonjakan pendapatan mendongkrak laba bersih dengan kenaikan 18,1% menjadi Rp 1,22 triliun dibandingkan sebelumnya Rp 1,03 triliun.

Menurut Teddy, pertumbuhan perusahaan yang konsisten berhasil mencatatkan EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation) meningkat menjadi 15,7%. “EBITDA diharapkan semakin meningkat seiring peningkatan kolokasi, terutama karena luasnya coverage menara di luar Jawa,” ujarnya.

Adapun pertumbuhan bisnis MTEL selama periode kuartal I-III 2022 tercatat terus konsisten lebih besar dari pertumbuhan industri. Hal inilah yang menjadikan profitabilitas Mitratel naik signifikan dibandingkan tahun lalu.

Terus Bertumbuh

Sementara itu, Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji memproyeksikan kinerja Mitratel akan terus bertumbuh. Sebab anak usaha Telkom tersebut mulai menampakkan hasil setelah genap setahun melantai di bursa.

"Tapi saham MTEL masih mengalami bearish consolidation dalam jangka pendek. MTEL memiliki level support Rp 680 dan resistance pada Rp 740. Ini analisis teknikal. Bullish consolidation mulai berlaku jika MTEL konsisten bertahan di atas Rp 705. Saat ini di Rp 710," ujar Nafan.

Meski begitu, Nafan meyakini tren kinerja Mitratel bakal terus meningkat hingga akhir tahun ini. Hal itu tak lepas dari sejumlah ekspansi bisnis Mitratel di sektor menara.

Peningkatan kinerja Mitratel juga akan ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang impresif dengan fundamental makro ekonomi domestik yang relatif solid. "Hal ini bisa menjadi katalis terhadap peningkatan kinerja fundamental top line maupun bottom line dari Mitratel," lanjutnya.

Lebih lanjut Nafan mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang positif mendorong peningkatan kebutuhan layanan konektivitas internet. Tak hanya itu, aksi Mitratel dalam mendukung pengembangan fiber optik juga akan makin meningkatkan kinerja perusahaan di masa mendatang.

"Permintaan konektivitas ke depan pasti mengalami peningkatan dengan pengembangan teknologi yang makin cepat, walaupun kinerja fundamental masih bertolak belakang dengan kinerja harga saham, tapi secara teknikal lebih baik kalau konsisten di atas Rp 750," ujarnya.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia